Home » All posts
Cerita Dewasa | Kenikmatan Terpaksa Teman Kampus
Di kampusku ada seorang gadis yang cantik jelita, namanya Ai Ling, ia keturunan China. Kulitnya putih mulus, rambutnya di-highlight kemerahan panjang, bentuk tubuh langsing dan proporsional. Sekali melihatnya kita akan langsung mengetahui bahwa ia anak orang kaya. tetapi yang paling kusuka darinya yaitu payudaranya yang besar, kutaksir berukuran sekitar 36B. Aku sering bermasturbasi dengan membayangkan kubuka BH-nya pelan-pelan dan tampaklah dua gunung padat menawan. Lalu kubayangkan kuperkosa ia, kubuat badannya dan susunya terguncang-guncang, tak peduli ia menjerit-jerit kesakitan dan meronta-ronta. tetapi itu tak perlu kuceritakan lebih lanjut, karena akan kuceritakan pengalamanku yang sesungguhnya, yaitu memperkosa Ai Ling.
Kampusku, T, terkenal dengan mayoritas mahasiswa keturunan Chinanya. Kami kaum pribumi hanya menjadi warga minoritas di sana. Sudah minoritas, kebanyakan laki-laki pula. Kalaupun di antara kami ada yang perempuan, biasanya jelek, gendut dan hitam kulitnya seperti kulitku. tetapi jangan memandang enteng diriku, aku berbadan besar, tinggi dan "adikku" panjangnya 18 cm bila sedang "on". Suatu hari si Ai Ling ini datang ke kampus dengan memakai baju ketat berwarna merah yang menonjolkan keindahan bentuk payudaranya dan celana panjang hitam yang memperlihatkan lekukan pinggulnya. Sebenarnya sudah biasa ia datang ke kampus dengan pakaian seperti itu, tetapi kali ini aku tak sanggup menahan birahiku yang sudah tertahan sejak lama. Pokoknya kali ini aku harus mendapatkannya, pikirku waktu itu. Ia lewat di depanku, aku hanya bisa menahan ludah mencium bau harum tubuhnya dan melihat kedua susunya yang seakan minta kuremas-remas. Saat ia menuju ke arah mobilnya kuikuti ia. Kebetulan tempat parkir kampusku sepi karena waktu itu sudah sore sekali, jam 6:00. Saat ia membuka pintu mobil, kubekap mulutnya dan kutempelkan pisau di lehernya yang jenjang.
"Heh! Lu jangan macem-macem ya kalo masih pengin hidup! Sekarang kita masuk mobil, lu yang mengemudi dan ingat, pisau ini siap ngeluarin usus lu kalo lu macem-macen di jalan!" ancamku. "I.. iya Mas, ampun! Jangan sakiti saya!" kata Ai Ling meratap mohon ampun. Rencana itu berjalan sukses, satpam yang menjaga pintu gerbang kampus tidak curiga begitu mobil kami lewat. Jelas ia tak berkutik, di sampingnya ada aku yang memeganginya dan menempelkan pisau di pinggangnya.
Sepanjang jalan Ai Ling meratap-ratap mohon belas kasihan, ia bilang aku boleh mengambil semua duitnya, perhiasan dan handphone jika ia dibiarkan pergi. Mimpi kali dia, mana mungkin aku melepaskan gadis secantik dia tanpa di-"mainin" dulu. Akhirnya kami sampai di rumahnya. Sudah kuselidiki dulu kalau ia tinggal sendirian di rumah besar itu tanpa pembantu dan orangtua. Orangtuanya sering ke luar negeri untuk urusan bisnis. Kugiring ia ke dalam kamar khusus karaoke yang kedap suara dan kukunci pintunya. Sebelumnya aku sudah mencabut kabel telepon, mengunci pagar dan lain-lain agar tidak tampak sesuatu yang mencurigakan dari luar. Wajahnya sudah pucat pasi membayangkan apa yang akan kuperbuat. "Mas mau apa.. Aaw!" Aku segera merobek t-shirtnya dan terlihat dua buah bukit indah yang seakan tidak cukup ditampung oleh BH-nya. Ia lari ke ujung kamar, tetapi aku segera memburunya dan menarik BH-nya hingga kini payudaranya terlihat jelas. Susunya ternyata lebih besar dari dugaanku dan warnanya lebih putih dari kulit tangannya. Dengan nafsu kuremas-remas, ia berteriak kesakitan dan meronta melepaskan diri. Aku semakin bernafsu, kutarik celananya dengan paksa sambil kuremas susunya lebih kuat lagi.
Tanpa kesulitan aku berhasil merobek celana dalamnya, ia kalah tenaga denganku yang berbadan besar ini. Langsung kuangkat ia, pantatnya kuangkat dengan tanganku dan kemaluannya kupompa dengan paksa. Ia berteriak kesakitan karena ukuran batang kemaluanku yang besar itu dan dengan kalap mencakar dan memukul mukaku. Tindakannya justru membuatku semakin bernafsu, makin cepat dan dalam kupompa dia. Ia menjerit-jerit dan mencakar tangan dan dadaku. Justru rasa sakit membuatku makin bernafsu, dengan kasar kugoncang dia naik-turun seperti naik kuda-kudaan. Rupanya Ai Ling masih perawan, aku bisa merasakan darah segar mengalir dari lubang kewanitaannya ke pangkal pahaku. Pantas ia merasakan sakit yang amat sangat, itu karena aku menembus selaput daranya dengan paksa. Posisi sekarang berubah, aku duduk dengan dia duduk di pangkuanku. Lama-lama tenaganya melemah dan tiba-tiba ia mengejang, kedua kakinya melingkari punggungku. Kurasakan kemaluannya telah basah, rupanya pompaanku yang ganas dan ukuran kemaluanku telah membuatnya orgasme walau ia berusaha menolaknya. Ai Ling langsung lemas dan tanpa perlawanan ia jatuh ke belakang. Karena aku belum sampai, kutahan tubuhnya agar tetap di pangkuanku dan terus kupompa ia. Dalam posisi itu kuhisap pentilnya yang coklat dan kugigit payudaranya yang besar hingga berdarah dan memerah. Ai Ling hanya bisa menangis sesenggukan tanpa melawan lagi, sudah pasrah rupanya.
15 menit, aku belum juga ejakulasi, kubalik tubuhnya hingga menungging dan tanpa basa-basi kutembus anusnya langsung sampai sedalam-dalamnya dengan batang kemaluanku yang 18 cm itu. Sejenak Ai Ling seperti tersentak kaget dan berusaha melepaskan diri. Ia meronta sekuat tenaga tetapi kupegangi pinggangnya dengan kedua tanganku kuat-kuat. Ia kembali mencakarku membabi buta dan rasa sakit itu membuatku lebih bersemangat memompa Ai Ling. Satu tanganku kugunakan untuk meremas susunya kuat-kuat dan satunya lagi kugunakan untuk menyodok kemaluannya dalam-dalam keluar masuk. Kali ini ia benar-benar tidak bisa berkutik. Kurasakan anusnya sudah lecet tergesek oleh batang kemaluanku tetapi kemaluannya basah karena rangsangan hebatku. Tiba-tiba ia menggigit tanganku yang kugunakan untuk meremas susunya. Aku terpaksa melepaskannya karena kesakitan dan ia berhasil melepaskan anusnya dari batang kemaluanku. Ai Ling lari ke pintu tetapi ia tak bisa membukanya karena kuncinya ada di saku celanaku. Nafsuku yang belum terpuaskan membuatku marah, kuburu ia dan kupukul muka serta payudaranya yang besar dan kenyal itu. Ai Ling terjerembab dengan mulut berdarah. "Oh jadi elu mau maen kasar ya, OK!!" teriakku. Kupukuli dada, perut dan mukanya hingga ia jatuh lemas dengan muka sembab. Kulitnya yang putih mulus tampak memerah dan Ai Ling sudah setengah sadar, yang jelas ia tak bisa bangkit lagi.
Dari tasku kukeluarkan dua anting-anting berbentuk ring dan salah satunya kutindikkan ke puting payudara Ai Ling. Ai Ling menjerit kesakitan dan darah langsung mengalir di susunya. Aku semakin bernafsu melihatnya dan ia memberontak berusaha lari lagi. Kali ini kupukul ia kuat-kuat sampai ia pingsan dan memudahkanku untuk memasang anting-anting kedua. Darah yang mengalir dari puting dan kemaluan Ai Ling semuanya kuhisap dan kujilati sampai kering. Dengan pingsannya dia, aku bisa sesuka hati berganti posisi. Pertama kuangkat ia dan kududukkan di pangkuanku sambil kunaik-turunkan pinggulnya. Lalu dari belakang kupompa ia sekuat tenaga. Masih belum juga aku ejakulasi. Kedua kakinya kunaikkan ke bahuku dan kubentang lebar-lebar lalu kupompa kemaluannya yang berdarah-darah dengan kencang. Perlu sekitar 50 kali pompaan untuk mengeluarkan spermaku. Semuanya kutumpahkan di dalam sebanyak 5 kali semprotan. Sisanya yang mengalir keluar kuambil dan kulapkan di susu dan perutnya. Kunikmati dulu keadaan itu, dimana batang kemaluanku masih tertancap di lubang kemaluannya. Kulihat wajah cantiknya yang bersimbah peluh masih pingsan, tampak tak berdaya, nafsuku timbul lagi. Sayang sekali jika aku hanya menyetubuhinya satu kali hari ini.
Kupapah ia ke kamar mandinya yang ternyata sangat mewah. Bak mandinya kuisi dengan air hangat sampai penuh dan Ai Ling kubaringkan di situ. Kulit putih mulusnya yang basah kuyup membuat batang kemaluanku yang tadinya lemas kembali tegang. Aku duduk di dalam bak mandi itu juga, dihadapannya, dan kali ini dengan leluasa kujamah seluruh tubuhnya dan kuremas-remas payudaranya yang besar itu. Putingnya yang beranting-anting kuisap, kusedot seluruh darah yang tersisa. Lalu kuangkat tubuhnya dan kusedot kemaluannya sampai seluruh cairan kewanitaannya habis. Tiba-tiba aku teringat, Ai Ling bisa sadar kapan saja dan meronta-ronta. Dengan cepat kucari tali untuk mengikat kedua tangannya ke belakang erat-erat. Di dalam bak mandi itu aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kupompa ia dengan cepat selama 15 menit. Karena merasakan ada benda yang mengganjal dan keluar masuk di kemaluannya, akhirnya Ai Ling sadar. Ia mendesah karena belum sepenuhnya sadar dari pingsannya. Aku tak peduli, kugenjot terus ia sampai cairan maniku keluar dan kutumpahkan di dalam kemaluannya. Ia akhirnya sadar, menangis sesenggukan dan berusaha meronta walau tangannya terikat. Ia kembali merintih mohon ampun dan mengeluh kesakitan di kemaluannya.
Kucabut batang kemaluanku dan kulihat kemaluannya, ternyata agak bengkak kemerahan. Rupanya kemaluannya tak sanggup menampung batang kemaluanku yang besar dan gesekan terus-menerus yang kasar. Entah kenapa, keadaan itu malah membuatku makin terangsang. Ketidakberdayaan Ai Ling dan kemaluannya yang bengkak itu membuatku bernafsu memasukkan batang kemaluanku yang besar ke lubang kemaluannya sekali lagi. Kali ini kutancapkan dalam-dalam dan kupompa ia sekuat-kuatnya. Ia menjerit-jerit kesakitan mohon ampun, meronta-ronta dengan tangan terikat, tetapi aku tetap memompanya dengan penuh semangat di bak mandi itu. Akhirnya ia pingsan karena kusenggamai terus-menerus selama 3 jam. Kulihat kemaluannya sudah bengkak dan kembali mengeluarkan darah. Kemudian kufoto ia dengan kamera yang sudah kupersiapkan sebanyak 1 rol film dari berbagai posisi. Kucuci cetak foto itu dan kutunjukkan ke Ai Ling tiga hari kemudian pada saat ia masuk kuliah. Ia kuancam dengan janji tak akan kuedarkan foto itu asal ia mau kusenggamai tiap hari di rumahnya. Dengan terpaksa akhirnya Ai Ling melayaniku tiap hari sampai aku bosan dan mencari mangsa lain. tetapi yang membuatku bangga, walaupun ia kuperkosa, tetapi ia selalu orgasme berkali-kali setiap kupakai tubuhnya.
Tamat
sumber
Cerita Dewasa | Love story
Kamar itu gelap. Sinar bulan tampak menyentuh kisi-kisi jendela kamar kecil itu. Membayangkan silhouette tubuh yang meringkuk di sudut kamar. Rena menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan lengannya yang memeluk lutut-lututnya. Bahunya yang bergerak-gerak menandakan bahwa gadis kecil itu sedang menangis. Rena mengangkat kepalanya, mengutuk sinar bulan yang menerpa wajahnya yang ternoda jejak-jejak air mata dalam hatinya. 'Bagaimana aku bisa memaafkan dia..'
"Rene.. ah.. Rene.." mulutnya berbisik setengah terbuka. Buliran air mata jatuh melewati pipinya menetesi lengannya. Gagang telepon di sebelahnya memperdengarkan nada sibuk. Rena memasukkan lagi kepalanya dalam dekapan kakinya, dan bahunya kembali bergerak-gerak.
Sepuluh kilometer jauhnya, waktu yang sama.
Rene membanting C35-nya ke lantai, memandangi sejenak serpihan- serpihan mesin itu berpencaran ke segala arah. Rene menjambak rambutnya dengan kesepuluh jemarinya. Gila.. semua gila, batinnya dalam hati.
'Rena.. bangsat! Cintaku.. aku..'
Rene menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya merawang menatap langit- langit kamarnya. Melamunkan wajah gadis kecil itu dalam dekapannya.. yang beralih menjadi bayangan api kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari nada suara gadis yang beberapa menit lalu masih bercakap-cakap dengannya. Rene menutup matanya dengan lengan kanannya, bahkan ia masih memiliki sedikit rasa malu kepada kamar kesayangannya, untuk melihatnya meneteskan air mata.
Somewhere, lantai dua, waktu yang sama.
Rina mengeraskan suara walkman-nya. Membiarkan lantunan musik kesayangannya memenuhi rongga telinganya. Tangannya bergerak membuka lembaran-lembaran literatur dihadapannya.
'Ah, aku harus belajar giat supaya cepat lulus.. lalu..'
Matanya memandang ke bingkai foto di atas meja disamping tempat tidurnya. Tangannya mengambil bingkai foto itu, dan bibirnya mencium wajah cowok yang sedang tersenyum kepadanya lewat foto di hadapannya. Cup.. cup.. Rina mencium foto itu berulang-ulang, membayangkan kehangatan cowok itu saat memeluknya, menciumnya, mencumbunya.. belajar.. belajar.. Rina mengingatkan dirinya sendiri sebelum tangannya mulai gatal.
Dua purnama yang lalu.
Cowok yang hanya mengenakan kaus oblong itu terlihat sibuk membersihkan mobilnya. Tangannya menggosok permukaan mobil itu dengan cermat, sesekali menyeka peluh yang keluar dari dahi dan pelipisnya.
'Ah.. panas sekali', umpatnya dalam hati.
Rene meraih selang yang tergolek di sebelah kakinya, bangkit berdiri dan menekan knob penyemprot di tangannya. Dicobanya untuk mengarahkan air itu ke wajahnya, ahh.. segarnya. Dibilasnya mobil itu dengan hati-hati, memastikan semua kotorannya luluh ke jalan. Mendadak telinganya menangkap suara bertubruknya sesuatu. Matanya mencari-cari, sementara tangannya yang memegang selang tetap mengarahkan semprotan air ke mobilnya.
Setengah jam sebelumnya.
"Kaak.. mana.. katanya mau ngajak aku jalan-jalan?", suara gadis ABG itu terdengar manja dan memaksa.
Gadis yang lebih tua berkata dangan malas, "Sekarang? Tanggung nih..".
Remote TV itu masih dalam genggamannya.
"Kaakk..!!" Rena memegang pundak kakaknya, merayu-rayu supaya kakaknya bersedia mengatakan janjinya.
"Iyaa.. udah sono!" Rina tertawa geli melihat kelakuan adiknya yang manja.
'Yah beginilah', pikirnya, jika hanya punya adik semata wayang, yang sangat kebetulan manja dan pemaksa.
Rina menyusuri jalanan kecil itu melewati rumah-rumah yang terlihat sepi. Adiknya yang duduk di belakang seakan menikmati suasana panas di siang hari itu, sementara kakaknya sesekali mengelap keningnya yang basah oleh keringat. Rina merasakan sebutir keringat mengenai matanya.. aduh..
Rene melihat seekor kucing lari terpincang-pincang dan menghilang dibalik pagar sebuah rumah. Rene tertawa, bukan pada tingkah gugup kucing itu, tapi pada kedua gadis di seberang jalan yang saling menyalahkan satu dengan lainnya.
"Makanya kalau jalan hati-hati.."
Rina kaget mendengar suara itu dan menghentikan pertikaiannya dengan adiknya yang masih cemberut.
"Rene.." matanya hampir tak berkedip memandang sosok cowok yang cengar-cengir di hadapannya, yang kemudian membungkuk untuk membantu menegakkan sepeda motornya.
"Reneehh..", Rina menahan desahan nafasnya ketika bibir Rene mengecup mesra bibirnya.
"Ada adikku loh."
"Biar saja, biar cari pacar.. hehehe.. mm..", Rene meneruskan ciumannya, sementara tangannya bergerak meremas-remas payudara Rina.
"Akhh.. Rene!" Rina menyingkirkan telapak tangan Rene dari dadanya, meninggalkan ruang tamu dan Rene yang tertawa-tawa, menghampiri adiknya yang mengomel panjang lebar di luar rumah.
"Nih.. awas.. sakit." Rina mengusapkan kapas yang basah oleh Betadine itu ke luka di lutut adiknya.
Rena mengerutkan alisnya, menahan nyeri dari reaksi Betadine yang menyapu pori-porinya. Rene keluar membawa segelas air.
"Nih, minumnya..". Rena meraih gelas itu dari tangan Rene dan meminumnya, tak sempat melihat tangan Rene yang menyusup masuk ke dalam baju kakaknya, sempat meremas sejenak, sebelum Rina menggerakkan sikutnya.
Rene tersenyum-senyum ketika melihat kakak beradik itu melambaikan tangan kepadanya, sebelum sepeda motor mereka oleng lagi dan kali ini hampir saja naik ke trotoar. Rene masih sempat mendengar erangan si adik yang memaki panjang lebar sebelum sepeda motor itu akhirnya menghilang di kejauhan.
Dua minggu kemudian, di sebuah malam minggu.
"Aduhh..", Rina memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Otot-otot keningnya menegang. Rina dapat merasakan pegangan tangan Rene di bahunya.
"Rina, tahan dong." Rene berkata panik.
"Apotik.. obat.. hhggnn.." Rina mengerang-erang kesakitan.
"Hah? Apotik mana? Obat apa?"
"Rena..", telunjuk Rina mengarah ke ruang tengah.
Rene langsung berlari, mendapati Rena yang sedang tiduran di depan TV.
"Ren, kakakmu kumat tuh..".
Rena langsung berlari dan memegangi perut kakaknya yang masih meringis.
"Duhh.. mana Papa Mama nggak ada, lagi.." nada suaranya terdengar panik.
"Beli.. uang.. di atas meja.." Rina berkata terengah-engah.
Rena langsung berlari ke dapur, mengambil segepok uang yang terletak di atas meja makan.
"Ayo.." Rene mendahului keluar
"Bangsat!" Rene melayangkan tinjunya ke rahang salah seorang anak muda yang berdiri paling dekat dengannya, membuat anak muda itu terjatuh.
Orang banyak segera berkerumun di sekeliling mereka. Teman-teman si anak muda menjadi reseh dan ngeloyor pergi sambil membawa teman mereka. Rene tak menghiraukan pertanyaan orang-orang di sekitarnya, memegangi bahu Rena yang terguncang dan membuka pintu mobil.
"Kamu sih, keluar duluan. Makanya.. lain kali.." Rene tidak meneruskan omelannya, merasa iba melihat tangis gadis kecil di sebelahnya.
Rene menghentikan mobilnya.
"Sudah.. jangan nangis lagi. Jelek.", Rene mengulurkan tangannya memegang pundak Rena, dan menekan tubuh gadis kecil itu ke dadanya.
Rena menangis sejadi-jadinya, merasakan ketakutan yang membuka pori-porinya saat tangan-tangan iseng tadi mendadak memegang buah dadanya. Rene membiarkan gadis itu membasahi bajunya, sebelum ingatan tentang Rina memaksanya untuk melepaskan pelukannya dan melajukan mobilnya secepat mungkin.
Seminggu setelahnya.
Rene membelokkan mobilnya dengan gerakan seminimal mungkin, berusaha tidak mengubah posisi kepala Rina yang berada di pangkuannya.
"Ahh.." Rene mendesah saat ujung penisnya masuk semakin dalam ke rongga mulut gadisnya.
Tangan kirinya menindah perseneling ke gigi dua, membiarkan laju mobil tetap stabil. Rena menghisap penis di mulutnya, menikmati rasa anyir dan asin itu bercampur di lidahnya. Dikeluarkannya sejenak penis itu dari mulutnya, memandangi dan menikmati air liurnya yang membasahi batang penis di depan matanya. Bibirnya turun dan mencium ujung penis itu dan kemudian menelannya lagi ke dalam mulutnya.
"Mmmhh.." Rene menikmati gerakan lidah gadisnya yang menyapu kulit batang penisnya dengan gerakan liar.
"Yang..keluar nih.." Rene berkata lirih.
Rina mengulurkan tangannya ke kotak tissue yang ada di jok belakang, mengambil segenggam tissue, menghisap penis Rene sekuat tenaga, mengeluarkannya dari mulutnya, dan menutup bibir penis itu dengan tissue.
"Aarrgghh.." Rene mengerang saat spermanya keluar membasahi tissue yang menutupi ujung penisnya.
Rina tersenyum melihat ekspresi kekasihnya. Rene merasa sakunya bergetar. Diambilnya HP dari sakunya, membiarkan Rina sibuk membersihkan cairan sperma yang tersisa, dengan tissue.. dengan kecupan bibirnya.. dengan lidahnya..
'Sial, jangan sekarang.'
Rene menekan tombol merah di HP-nya.
"Siapa?"
"Ah.. anak-anak, pasti deh ngajak jalan."
"Ya udah, kita pulang saja, aku ngerti kok." Rene tersenyum dan merasakan kancing celananya terpasang kembali.
"Oke.. thanks, love you so much", Rene mengecup bibir Rina dan merasakan sisa-sisa sperma di ujung bibir gadisnya.
"Ada apa?"
"Ngga pa-pa.. aku sedih saja.."
Rene tertawa kecil, "Hahaha.. ada apa sih?"
"Ntar.. ada kakak.." Rena menutup speaker telpon dengan telapak tangannya, menunggu sosok Rina yang bersiul-siul menghilang dari hadapannya.
"Halo?"
"Iya.. ada apa adik kecil?"
"Aku ngga kecil lagi!"
Rene tertawa, matanya menatap ke depan, menghindari sebuah sepeda motor yang melaju kencang.
"Iya deh, adik besar.."
"Ngga mau besar.. tua.." Susah.
"Ada apa sih..?"
"Ngga pa-pa, pingin aja ngobrol ama kamu.."
"Hahahaha.. masih ngga berani keluar?"
Rena merasa wajahnya merona, "Iya.."
"Besok kujemput pulang sekolah?"
"Iya.. eh.. kutunggu loh.. bener ya!"
Rene merasakan ketidak sabaran yang lazim dari seorang gadis ABG, tertawa kecil dan berkata, "Oke, tungguin aja."
Rene tertawa melihat tubuh Rena yang tenggelam dalam baju yang kebesaran itu. Rena mengerang dari balik baju, "Jahat. Masa aku disuruh pakai yang begini.." Rene tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Rena kembali masuk ke dalam kamar pas, dan keluar beberapa saat kemudian sambil cemberut, mengembalikan baju hip-hop itu ke gantungan, tanpa memperdulikan pandangan Mbak penjaga stan yang mencemooh. Rene mengusap kepala Rena dengan buku jarinya. Membiarkan Rena menggelengkan kepalanya dengan sebal. "Makan yuk."
Rene memperhatikan Rena menyantap paha ayam itu dengan penuh perhatian.
'Ah, desahnya dalam hati', ini sudah yang kedua kalinya, tapi getaran ini.. sejenak Rene terngiang sebuah pepatah Jawa 'tresno jalaran soko kulino'.. dan bibirnya tersenyum.
"Apa liat-liat?" Rena menyerang bertanya.
"Ge-er deh.. aku ngeliatin ayammu, kalo ngga abis.." Keduanya tertawa dan menghabiskan makanan mereka.
Seminggu setelah kejadian terakhir.. di tengah hujan lebat..
"Mmmhh.." Rena mengeluh lirih, "Rene.. hh.." Rene mengecup bibir gadis kecil itu dengan perlahan, membiarkan gadis itu mengeluh.
"Rena.. aku sayang kamu.." Tangannya menyingkap baju si gadis, memegang buah dada si gadis yang terasa kencang di telapak tangannya.
"Ahh..", Rena memejamkan matanya, merasakan untuk pertama kalinya disentuh oleh seorang lelaki, seorang lelaki yang menjadi idolanya sejak kejadian di depan apotik tempo hari.
Rene menempelkan bibirnya lebih keras.. menenggelamkan lidahnya ke dalam rongga mulut si gadis kecil.. memaksa lidah si gadis untuk bergerak mengiringinya.
"Mmmhh.." Rena mengeluh lagi saat tangan Rene masuk ke dalam bra-nya, memainkan puting buah dadanya, mengangkat lengannya untuk merangkul leher pahlawannya.
Rene memainkan puting si gadis dengan gerakan yang lembut, menahan gejolak nafsunya sendiri, menundukkan kepalanya, dan mengecup puting itu dengan perlahan, merasakan lengkungan tulang punggung si gadis seiring dengan desahannya.
"Rene.. sudah dong.. ahh.. hh.." Rene menghentikan hisapannya, memandang mata Rena yang mulai berkaca-kaca, mengembalikan bra si gadis ke posisi semula.
Rena membiarkan Rene mengecup bibirnya, menikmati kasih sayangnya yang menggebu, dan memeluk kepala Rene yang tenggelam di dadanya. Kehangatan yang mereka rasakan saat itu membuat kaca mobil mengembun, dan mengingatkan mereka akan seseorang yang dengan sabar menunggu kedatangan McDonalds pesanannya di rumah tanpa curiga.
Dua hari kemudian, di sebuah hotel kelas menengah.
"Ahh.. ah.. Rene.. hh..", Rina mengerang, menggigit bibir bawahnya, merasakan keperihan yang ditimbulkan oleh tekanan penis kekasihnya yang semakin dalam ke kemaluannya.
Rene merasakan nafasnya mulai memburu. Ia mengangkat tubuhnya dan melihat batang penisnya yang sudah setengah tenggelam dalam kemaluan gadisnya, digerak-gerakkannya pinggulnya, menekan penisnya lebih dalam, untuk kemudian menariknya keluar supaya dapat mendengar gadisnya mengerang di bawahnya.
"Ahh.." Rene mengeluh penuh kenikmatan.
Rina mengulurkan tangannya, merangkul leher Rene, menempelkan bibir kekasihnya ke ujung buah dadanya, menggerakkan pinggulnya untuk menikmati penetrasi kekasihnya, sementara rasa perih yang semula dirasakannya perlahan menghilang, berganti dengan kegelian dan kenikmatan yang luar biasa, yang memaksanya mengeluh dan mengerang dalam nafsu yang membara di benaknya.
"Ahh.. Rina.. ah.. hh" Rene merasakan nafsunya yang mulai beranjak ke ubun-ubun.
Pinggulnya bergerak semakin cepat, menggesek dan menusuk kemaluan gadisnya. Rina menjerit tertahan, memeluk dan mencakar punggung Rene, merasakan sedikit sakit saat liang vaginanya menelan seluruh batang penis kekasihnya, gesekan-gesekan itu menambah rasa geli dan nikmat di seluruh tubuhnya.
"Rene.. ahh.. ahh.. hh.." Rene mencabut keluar penisnya, mengeluarkan spermanya yang berwarna kemerahan di atas permukaan perut gadisnya.
Rina mengulurkan tangannya, menggenggam dan meremas batang penis yang menempel di perutnya, menikmati ciuman kelelahan Rene di bibirnya dan dadanya, dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menyeka air matanya.
Awal minggu kedua, purnama kedua, di dalam mobil.
"Trus.. diapain?" Rene tertawa melihat kepolosan gadis kecil ini.
"Nih.. digini'in.."
"Oke." Rene mendesah lirih saat jemari Rena memainkan batang penisnya yang menegang.
Tangannya terjulur meremas buah dada si gadis yang menggantung saat si gadis kembali membungkuk. Rena menikmati desahan pahlawannya, memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu bentuk batang penis dalam genggamannya, ujungnya yang kemerahan, uratnya yang menonjol dari kulitnya..
'Ah.. jadi begini wujudnya.' Rina menggerak- gerakkan tangannya sesuai yang dicontohkan Rene kepadanya, sedikit terhanyut oleh sentuhan-sentuhan Rene pada payudaranya.
"Awww.. ihh.." Rena menarik kepalanya ke belakang ketika semburan sperma itu nyaris mengenai wajahnya.
"Ahhkk.. sori.. sori.. maaf.." Rene sempat kikuk setelah sadar dari buaian kenikmatan ejakulasinya.
Menatap mata Rena yang bertanya-tanya, mengambil tissue dari jok belakang, dan menyeka ujung kemaluannya, sedikit geli melihat ceceran sperma yang mengenai permukaan tombol klakson mobilnya.
"Lengket..", Rena bergumam sambil memainkan sperma yang terselip di jemarinya.
Rene tertawa lirih dan membersihkan jemari gadis kecilnya dengan tissue.
"Itu yang namanya sperma..", Rene nyaris terbahak melihat mulut Rena yang meringis dan alisnya yang berkerut.
'Aku sayang kamu gadis polos..', ucapnya dalam hati.
Rena mengamati Rene membersihkan tangannya, dan melihat penis pahlawannya perlahan mengecil.
Tanpa dapat ditahannya, Rena tertawa, "Ihh.. kecil.. cuman segitu rupanya..", Rene tersipu dan bergegas membenahi celananya
Akhir minggu kedua, purnama kedua.
Rena mengeluh panjang lebar. Menunggu di tepian jalan seperti perek bukanlah tipe pekerjaan yang disenanginya. Dilihatnya matahari yang sudah naik tinggi di atas kepalanya. Sial. Dihampirinya box telepon di belakangnya, dan setelah memasukkan koin seratus terakhirnya, jarinya memencet-mencet nomor telepon rumahnya.
'Brengsek', umpatnya dalam hati mendengar suara penjawab telpon, "Disini rumah keluarga Ta..", Rena membanting gagang telpon itu, membiarkan beberapa pasang mata pengunjung warung menatap heran ke arahnya. Rena melangkah ke pinggir trotoar dan melambaikan tangannya.
"Awas.. yah! Jalan melulu.. lupa sama adiknya! Kuberitahu Mama dan Papa kalau sudah pulang!", Rena menggeram dan mengomel selama perjalanan.
Sopir taksi itu menatapnya geli dari balik kaca spion. Rena melengos dan mengalihkan pandangannya keluar jendela
Sementara itu, sepuluh menit setelah Rena menyetop taksi.
"Ahh.. ahh.. ahh.. ahh.." Rene memegang kedua payudara kekasihnya, menciumi punggung kekasihnya yang putih dan mulus.
Pinggulnya bergoyang-goyang ke depan ke belakang dengan irama yang penuh nafsu. Rina mengangkat pinggulnya, merasakan gerakan pinggul Rene yang agresif, menikmati batang penis yang keluar masuk di liang vaginanya.
"Ahh.. ah..", Rene mengerang dan mengeluh penuh kenikmatan, merasakan setiap himpitan liang kemaluan kekasihnya.
Rina merasakan kulit dada kekasihnya menempel di punggungnya, gerakan pinggul Rene semakin cepat, Rene melepaskan pegangannya pada buah dada Rina dan memeluk pinggangnya dengan kencang, merasakan kepalanya yang terangkat dan peluhnya yang mengucur saat menekan penisnya lebih dalam dan mempercepat gerakan pinggulnya.
"Ahh.. ah.. ah.. ah.. ah..", Rina mengeluh seiring irama pergerakan pinggul Rene.
Rene melepaskan rangkulannya, membiarkan tubuh kekasihnya jatuh menelungkup di pinggir tempat tidur, menggunakan tangannya menarik keluar penisnya dan menyemburkan spermanya ke permukaan pinggul kekasihnya.
"Ahh..", Rene menyeka peluhnya, menindih tubuh Rina yang tertelungkup, membiarkan penisnya menempel di celah pinggul si gadis, dan menciumi belakang kuping dan leher gadisnya yang kelelahan.
"I love you.. honey-bunny.." Rina tertawa lirih.
Dan betapa sepasang mata yang berurai air mata itu menyaksikan setiap adegan tanpa berkedip.
Tamat
sumber
"Rene.. ah.. Rene.." mulutnya berbisik setengah terbuka. Buliran air mata jatuh melewati pipinya menetesi lengannya. Gagang telepon di sebelahnya memperdengarkan nada sibuk. Rena memasukkan lagi kepalanya dalam dekapan kakinya, dan bahunya kembali bergerak-gerak.
Sepuluh kilometer jauhnya, waktu yang sama.
Rene membanting C35-nya ke lantai, memandangi sejenak serpihan- serpihan mesin itu berpencaran ke segala arah. Rene menjambak rambutnya dengan kesepuluh jemarinya. Gila.. semua gila, batinnya dalam hati.
'Rena.. bangsat! Cintaku.. aku..'
Rene menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya merawang menatap langit- langit kamarnya. Melamunkan wajah gadis kecil itu dalam dekapannya.. yang beralih menjadi bayangan api kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari nada suara gadis yang beberapa menit lalu masih bercakap-cakap dengannya. Rene menutup matanya dengan lengan kanannya, bahkan ia masih memiliki sedikit rasa malu kepada kamar kesayangannya, untuk melihatnya meneteskan air mata.
Somewhere, lantai dua, waktu yang sama.
Rina mengeraskan suara walkman-nya. Membiarkan lantunan musik kesayangannya memenuhi rongga telinganya. Tangannya bergerak membuka lembaran-lembaran literatur dihadapannya.
'Ah, aku harus belajar giat supaya cepat lulus.. lalu..'
Matanya memandang ke bingkai foto di atas meja disamping tempat tidurnya. Tangannya mengambil bingkai foto itu, dan bibirnya mencium wajah cowok yang sedang tersenyum kepadanya lewat foto di hadapannya. Cup.. cup.. Rina mencium foto itu berulang-ulang, membayangkan kehangatan cowok itu saat memeluknya, menciumnya, mencumbunya.. belajar.. belajar.. Rina mengingatkan dirinya sendiri sebelum tangannya mulai gatal.
Dua purnama yang lalu.
Cowok yang hanya mengenakan kaus oblong itu terlihat sibuk membersihkan mobilnya. Tangannya menggosok permukaan mobil itu dengan cermat, sesekali menyeka peluh yang keluar dari dahi dan pelipisnya.
'Ah.. panas sekali', umpatnya dalam hati.
Rene meraih selang yang tergolek di sebelah kakinya, bangkit berdiri dan menekan knob penyemprot di tangannya. Dicobanya untuk mengarahkan air itu ke wajahnya, ahh.. segarnya. Dibilasnya mobil itu dengan hati-hati, memastikan semua kotorannya luluh ke jalan. Mendadak telinganya menangkap suara bertubruknya sesuatu. Matanya mencari-cari, sementara tangannya yang memegang selang tetap mengarahkan semprotan air ke mobilnya.
Setengah jam sebelumnya.
"Kaak.. mana.. katanya mau ngajak aku jalan-jalan?", suara gadis ABG itu terdengar manja dan memaksa.
Gadis yang lebih tua berkata dangan malas, "Sekarang? Tanggung nih..".
Remote TV itu masih dalam genggamannya.
"Kaakk..!!" Rena memegang pundak kakaknya, merayu-rayu supaya kakaknya bersedia mengatakan janjinya.
"Iyaa.. udah sono!" Rina tertawa geli melihat kelakuan adiknya yang manja.
'Yah beginilah', pikirnya, jika hanya punya adik semata wayang, yang sangat kebetulan manja dan pemaksa.
Rina menyusuri jalanan kecil itu melewati rumah-rumah yang terlihat sepi. Adiknya yang duduk di belakang seakan menikmati suasana panas di siang hari itu, sementara kakaknya sesekali mengelap keningnya yang basah oleh keringat. Rina merasakan sebutir keringat mengenai matanya.. aduh..
Rene melihat seekor kucing lari terpincang-pincang dan menghilang dibalik pagar sebuah rumah. Rene tertawa, bukan pada tingkah gugup kucing itu, tapi pada kedua gadis di seberang jalan yang saling menyalahkan satu dengan lainnya.
"Makanya kalau jalan hati-hati.."
Rina kaget mendengar suara itu dan menghentikan pertikaiannya dengan adiknya yang masih cemberut.
"Rene.." matanya hampir tak berkedip memandang sosok cowok yang cengar-cengir di hadapannya, yang kemudian membungkuk untuk membantu menegakkan sepeda motornya.
"Reneehh..", Rina menahan desahan nafasnya ketika bibir Rene mengecup mesra bibirnya.
"Ada adikku loh."
"Biar saja, biar cari pacar.. hehehe.. mm..", Rene meneruskan ciumannya, sementara tangannya bergerak meremas-remas payudara Rina.
"Akhh.. Rene!" Rina menyingkirkan telapak tangan Rene dari dadanya, meninggalkan ruang tamu dan Rene yang tertawa-tawa, menghampiri adiknya yang mengomel panjang lebar di luar rumah.
"Nih.. awas.. sakit." Rina mengusapkan kapas yang basah oleh Betadine itu ke luka di lutut adiknya.
Rena mengerutkan alisnya, menahan nyeri dari reaksi Betadine yang menyapu pori-porinya. Rene keluar membawa segelas air.
"Nih, minumnya..". Rena meraih gelas itu dari tangan Rene dan meminumnya, tak sempat melihat tangan Rene yang menyusup masuk ke dalam baju kakaknya, sempat meremas sejenak, sebelum Rina menggerakkan sikutnya.
Rene tersenyum-senyum ketika melihat kakak beradik itu melambaikan tangan kepadanya, sebelum sepeda motor mereka oleng lagi dan kali ini hampir saja naik ke trotoar. Rene masih sempat mendengar erangan si adik yang memaki panjang lebar sebelum sepeda motor itu akhirnya menghilang di kejauhan.
Dua minggu kemudian, di sebuah malam minggu.
"Aduhh..", Rina memegangi perutnya yang terasa nyeri.
Otot-otot keningnya menegang. Rina dapat merasakan pegangan tangan Rene di bahunya.
"Rina, tahan dong." Rene berkata panik.
"Apotik.. obat.. hhggnn.." Rina mengerang-erang kesakitan.
"Hah? Apotik mana? Obat apa?"
"Rena..", telunjuk Rina mengarah ke ruang tengah.
Rene langsung berlari, mendapati Rena yang sedang tiduran di depan TV.
"Ren, kakakmu kumat tuh..".
Rena langsung berlari dan memegangi perut kakaknya yang masih meringis.
"Duhh.. mana Papa Mama nggak ada, lagi.." nada suaranya terdengar panik.
"Beli.. uang.. di atas meja.." Rina berkata terengah-engah.
Rena langsung berlari ke dapur, mengambil segepok uang yang terletak di atas meja makan.
"Ayo.." Rene mendahului keluar
"Bangsat!" Rene melayangkan tinjunya ke rahang salah seorang anak muda yang berdiri paling dekat dengannya, membuat anak muda itu terjatuh.
Orang banyak segera berkerumun di sekeliling mereka. Teman-teman si anak muda menjadi reseh dan ngeloyor pergi sambil membawa teman mereka. Rene tak menghiraukan pertanyaan orang-orang di sekitarnya, memegangi bahu Rena yang terguncang dan membuka pintu mobil.
"Kamu sih, keluar duluan. Makanya.. lain kali.." Rene tidak meneruskan omelannya, merasa iba melihat tangis gadis kecil di sebelahnya.
Rene menghentikan mobilnya.
"Sudah.. jangan nangis lagi. Jelek.", Rene mengulurkan tangannya memegang pundak Rena, dan menekan tubuh gadis kecil itu ke dadanya.
Rena menangis sejadi-jadinya, merasakan ketakutan yang membuka pori-porinya saat tangan-tangan iseng tadi mendadak memegang buah dadanya. Rene membiarkan gadis itu membasahi bajunya, sebelum ingatan tentang Rina memaksanya untuk melepaskan pelukannya dan melajukan mobilnya secepat mungkin.
Seminggu setelahnya.
Rene membelokkan mobilnya dengan gerakan seminimal mungkin, berusaha tidak mengubah posisi kepala Rina yang berada di pangkuannya.
"Ahh.." Rene mendesah saat ujung penisnya masuk semakin dalam ke rongga mulut gadisnya.
Tangan kirinya menindah perseneling ke gigi dua, membiarkan laju mobil tetap stabil. Rena menghisap penis di mulutnya, menikmati rasa anyir dan asin itu bercampur di lidahnya. Dikeluarkannya sejenak penis itu dari mulutnya, memandangi dan menikmati air liurnya yang membasahi batang penis di depan matanya. Bibirnya turun dan mencium ujung penis itu dan kemudian menelannya lagi ke dalam mulutnya.
"Mmmhh.." Rene menikmati gerakan lidah gadisnya yang menyapu kulit batang penisnya dengan gerakan liar.
"Yang..keluar nih.." Rene berkata lirih.
Rina mengulurkan tangannya ke kotak tissue yang ada di jok belakang, mengambil segenggam tissue, menghisap penis Rene sekuat tenaga, mengeluarkannya dari mulutnya, dan menutup bibir penis itu dengan tissue.
"Aarrgghh.." Rene mengerang saat spermanya keluar membasahi tissue yang menutupi ujung penisnya.
Rina tersenyum melihat ekspresi kekasihnya. Rene merasa sakunya bergetar. Diambilnya HP dari sakunya, membiarkan Rina sibuk membersihkan cairan sperma yang tersisa, dengan tissue.. dengan kecupan bibirnya.. dengan lidahnya..
'Sial, jangan sekarang.'
Rene menekan tombol merah di HP-nya.
"Siapa?"
"Ah.. anak-anak, pasti deh ngajak jalan."
"Ya udah, kita pulang saja, aku ngerti kok." Rene tersenyum dan merasakan kancing celananya terpasang kembali.
"Oke.. thanks, love you so much", Rene mengecup bibir Rina dan merasakan sisa-sisa sperma di ujung bibir gadisnya.
"Ada apa?"
"Ngga pa-pa.. aku sedih saja.."
Rene tertawa kecil, "Hahaha.. ada apa sih?"
"Ntar.. ada kakak.." Rena menutup speaker telpon dengan telapak tangannya, menunggu sosok Rina yang bersiul-siul menghilang dari hadapannya.
"Halo?"
"Iya.. ada apa adik kecil?"
"Aku ngga kecil lagi!"
Rene tertawa, matanya menatap ke depan, menghindari sebuah sepeda motor yang melaju kencang.
"Iya deh, adik besar.."
"Ngga mau besar.. tua.." Susah.
"Ada apa sih..?"
"Ngga pa-pa, pingin aja ngobrol ama kamu.."
"Hahahaha.. masih ngga berani keluar?"
Rena merasa wajahnya merona, "Iya.."
"Besok kujemput pulang sekolah?"
"Iya.. eh.. kutunggu loh.. bener ya!"
Rene merasakan ketidak sabaran yang lazim dari seorang gadis ABG, tertawa kecil dan berkata, "Oke, tungguin aja."
Rene tertawa melihat tubuh Rena yang tenggelam dalam baju yang kebesaran itu. Rena mengerang dari balik baju, "Jahat. Masa aku disuruh pakai yang begini.." Rene tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Rena kembali masuk ke dalam kamar pas, dan keluar beberapa saat kemudian sambil cemberut, mengembalikan baju hip-hop itu ke gantungan, tanpa memperdulikan pandangan Mbak penjaga stan yang mencemooh. Rene mengusap kepala Rena dengan buku jarinya. Membiarkan Rena menggelengkan kepalanya dengan sebal. "Makan yuk."
Rene memperhatikan Rena menyantap paha ayam itu dengan penuh perhatian.
'Ah, desahnya dalam hati', ini sudah yang kedua kalinya, tapi getaran ini.. sejenak Rene terngiang sebuah pepatah Jawa 'tresno jalaran soko kulino'.. dan bibirnya tersenyum.
"Apa liat-liat?" Rena menyerang bertanya.
"Ge-er deh.. aku ngeliatin ayammu, kalo ngga abis.." Keduanya tertawa dan menghabiskan makanan mereka.
Seminggu setelah kejadian terakhir.. di tengah hujan lebat..
"Mmmhh.." Rena mengeluh lirih, "Rene.. hh.." Rene mengecup bibir gadis kecil itu dengan perlahan, membiarkan gadis itu mengeluh.
"Rena.. aku sayang kamu.." Tangannya menyingkap baju si gadis, memegang buah dada si gadis yang terasa kencang di telapak tangannya.
"Ahh..", Rena memejamkan matanya, merasakan untuk pertama kalinya disentuh oleh seorang lelaki, seorang lelaki yang menjadi idolanya sejak kejadian di depan apotik tempo hari.
Rene menempelkan bibirnya lebih keras.. menenggelamkan lidahnya ke dalam rongga mulut si gadis kecil.. memaksa lidah si gadis untuk bergerak mengiringinya.
"Mmmhh.." Rena mengeluh lagi saat tangan Rene masuk ke dalam bra-nya, memainkan puting buah dadanya, mengangkat lengannya untuk merangkul leher pahlawannya.
Rene memainkan puting si gadis dengan gerakan yang lembut, menahan gejolak nafsunya sendiri, menundukkan kepalanya, dan mengecup puting itu dengan perlahan, merasakan lengkungan tulang punggung si gadis seiring dengan desahannya.
"Rene.. sudah dong.. ahh.. hh.." Rene menghentikan hisapannya, memandang mata Rena yang mulai berkaca-kaca, mengembalikan bra si gadis ke posisi semula.
Rena membiarkan Rene mengecup bibirnya, menikmati kasih sayangnya yang menggebu, dan memeluk kepala Rene yang tenggelam di dadanya. Kehangatan yang mereka rasakan saat itu membuat kaca mobil mengembun, dan mengingatkan mereka akan seseorang yang dengan sabar menunggu kedatangan McDonalds pesanannya di rumah tanpa curiga.
Dua hari kemudian, di sebuah hotel kelas menengah.
"Ahh.. ah.. Rene.. hh..", Rina mengerang, menggigit bibir bawahnya, merasakan keperihan yang ditimbulkan oleh tekanan penis kekasihnya yang semakin dalam ke kemaluannya.
Rene merasakan nafasnya mulai memburu. Ia mengangkat tubuhnya dan melihat batang penisnya yang sudah setengah tenggelam dalam kemaluan gadisnya, digerak-gerakkannya pinggulnya, menekan penisnya lebih dalam, untuk kemudian menariknya keluar supaya dapat mendengar gadisnya mengerang di bawahnya.
"Ahh.." Rene mengeluh penuh kenikmatan.
Rina mengulurkan tangannya, merangkul leher Rene, menempelkan bibir kekasihnya ke ujung buah dadanya, menggerakkan pinggulnya untuk menikmati penetrasi kekasihnya, sementara rasa perih yang semula dirasakannya perlahan menghilang, berganti dengan kegelian dan kenikmatan yang luar biasa, yang memaksanya mengeluh dan mengerang dalam nafsu yang membara di benaknya.
"Ahh.. Rina.. ah.. hh" Rene merasakan nafsunya yang mulai beranjak ke ubun-ubun.
Pinggulnya bergerak semakin cepat, menggesek dan menusuk kemaluan gadisnya. Rina menjerit tertahan, memeluk dan mencakar punggung Rene, merasakan sedikit sakit saat liang vaginanya menelan seluruh batang penis kekasihnya, gesekan-gesekan itu menambah rasa geli dan nikmat di seluruh tubuhnya.
"Rene.. ahh.. ahh.. hh.." Rene mencabut keluar penisnya, mengeluarkan spermanya yang berwarna kemerahan di atas permukaan perut gadisnya.
Rina mengulurkan tangannya, menggenggam dan meremas batang penis yang menempel di perutnya, menikmati ciuman kelelahan Rene di bibirnya dan dadanya, dan menggunakan tangannya yang bebas untuk menyeka air matanya.
Awal minggu kedua, purnama kedua, di dalam mobil.
"Trus.. diapain?" Rene tertawa melihat kepolosan gadis kecil ini.
"Nih.. digini'in.."
"Oke." Rene mendesah lirih saat jemari Rena memainkan batang penisnya yang menegang.
Tangannya terjulur meremas buah dada si gadis yang menggantung saat si gadis kembali membungkuk. Rena menikmati desahan pahlawannya, memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu bentuk batang penis dalam genggamannya, ujungnya yang kemerahan, uratnya yang menonjol dari kulitnya..
'Ah.. jadi begini wujudnya.' Rina menggerak- gerakkan tangannya sesuai yang dicontohkan Rene kepadanya, sedikit terhanyut oleh sentuhan-sentuhan Rene pada payudaranya.
"Awww.. ihh.." Rena menarik kepalanya ke belakang ketika semburan sperma itu nyaris mengenai wajahnya.
"Ahhkk.. sori.. sori.. maaf.." Rene sempat kikuk setelah sadar dari buaian kenikmatan ejakulasinya.
Menatap mata Rena yang bertanya-tanya, mengambil tissue dari jok belakang, dan menyeka ujung kemaluannya, sedikit geli melihat ceceran sperma yang mengenai permukaan tombol klakson mobilnya.
"Lengket..", Rena bergumam sambil memainkan sperma yang terselip di jemarinya.
Rene tertawa lirih dan membersihkan jemari gadis kecilnya dengan tissue.
"Itu yang namanya sperma..", Rene nyaris terbahak melihat mulut Rena yang meringis dan alisnya yang berkerut.
'Aku sayang kamu gadis polos..', ucapnya dalam hati.
Rena mengamati Rene membersihkan tangannya, dan melihat penis pahlawannya perlahan mengecil.
Tanpa dapat ditahannya, Rena tertawa, "Ihh.. kecil.. cuman segitu rupanya..", Rene tersipu dan bergegas membenahi celananya
Akhir minggu kedua, purnama kedua.
Rena mengeluh panjang lebar. Menunggu di tepian jalan seperti perek bukanlah tipe pekerjaan yang disenanginya. Dilihatnya matahari yang sudah naik tinggi di atas kepalanya. Sial. Dihampirinya box telepon di belakangnya, dan setelah memasukkan koin seratus terakhirnya, jarinya memencet-mencet nomor telepon rumahnya.
'Brengsek', umpatnya dalam hati mendengar suara penjawab telpon, "Disini rumah keluarga Ta..", Rena membanting gagang telpon itu, membiarkan beberapa pasang mata pengunjung warung menatap heran ke arahnya. Rena melangkah ke pinggir trotoar dan melambaikan tangannya.
"Awas.. yah! Jalan melulu.. lupa sama adiknya! Kuberitahu Mama dan Papa kalau sudah pulang!", Rena menggeram dan mengomel selama perjalanan.
Sopir taksi itu menatapnya geli dari balik kaca spion. Rena melengos dan mengalihkan pandangannya keluar jendela
Sementara itu, sepuluh menit setelah Rena menyetop taksi.
"Ahh.. ahh.. ahh.. ahh.." Rene memegang kedua payudara kekasihnya, menciumi punggung kekasihnya yang putih dan mulus.
Pinggulnya bergoyang-goyang ke depan ke belakang dengan irama yang penuh nafsu. Rina mengangkat pinggulnya, merasakan gerakan pinggul Rene yang agresif, menikmati batang penis yang keluar masuk di liang vaginanya.
"Ahh.. ah..", Rene mengerang dan mengeluh penuh kenikmatan, merasakan setiap himpitan liang kemaluan kekasihnya.
Rina merasakan kulit dada kekasihnya menempel di punggungnya, gerakan pinggul Rene semakin cepat, Rene melepaskan pegangannya pada buah dada Rina dan memeluk pinggangnya dengan kencang, merasakan kepalanya yang terangkat dan peluhnya yang mengucur saat menekan penisnya lebih dalam dan mempercepat gerakan pinggulnya.
"Ahh.. ah.. ah.. ah.. ah..", Rina mengeluh seiring irama pergerakan pinggul Rene.
Rene melepaskan rangkulannya, membiarkan tubuh kekasihnya jatuh menelungkup di pinggir tempat tidur, menggunakan tangannya menarik keluar penisnya dan menyemburkan spermanya ke permukaan pinggul kekasihnya.
"Ahh..", Rene menyeka peluhnya, menindih tubuh Rina yang tertelungkup, membiarkan penisnya menempel di celah pinggul si gadis, dan menciumi belakang kuping dan leher gadisnya yang kelelahan.
"I love you.. honey-bunny.." Rina tertawa lirih.
Dan betapa sepasang mata yang berurai air mata itu menyaksikan setiap adegan tanpa berkedip.
Tamat
sumber
Cerita Dewasa | Blowjob Di Toilet Sekolah
Ini dia Cerita Dewasa yang bercerita tentang Gadis SMA bernama Amalia yang bikin aku merem melek. waktu itu adalah hari ulang tahun sekolah tempat gue belajar 2,5 tahun belakangan ini. hari jadi sekolah merupakan hari yang sangat bahagia bagi kami siswa siswi yang sekolah disana kerana kami semua ga dapet belajar tentunya dan udah dari 3 hari sebelumnya melakukan berbagai persiapan untuk acara hari itu!
Pada hari jadinya sekolah kami mengadakan berbagai acara yang sangat heboh dan ga kalah seru pastinya sob! mulai dari pentas musik aneka band, aneka lomba2 seperti lomba antar kelas sampai lomba modern dance. Namun lomba modern dance ini tidak diadakan antarkelas, tetapi antar angkatan yang membuat acara ini seru adalah suporter dari masing2 kelas dan angkatan yang saling adu mulut sampai adu jotos untuk team yang mereka jagokan!biasalah anak muda seperti kami egonya lagi tinggi-tingginya
Ok kembali ke acara ulang tahun sekolah gue ini dimulai dari pukul 9 pagi. Namun gue datang pukul 11 siang!hehe.. maklum lah anak bandel yang suka nyari sensasi dan sengaja gue datangnya telat hanya untuk nonton band2 ibu kota dan menyaksikan lomba modern dance saja. Dan akhirnya saat yang dinanti datang juga.
Modern dance angkatan kelas 3 yaitu angkatan gue sendiri yang beranggotakan 5 orang. Namun yang gue kenal dekat hanya melia yang memiliki nama lengkap Putri Amelia Candra. ohhh ya gw kok sudah mengenalin orang lain padahal gue aja belom kenalan!he..nama gw ryo sob nama panjangnya ga usah deh ya jelek soalnya :P
Acara pun dimulai dari penampilan kelas 1 lalu iikuti kelas 2 dan yang menjadi penutup adalah kelas 3. Mereka mulai masuk ke tengah lapangan. Pakaian yang mereka kenakan cukup seksi. Walaupun di bagian perutnya tidak terbuka. Pakaian yang mereka kenakan cukup ketat pastinya, menonjolkan payudara payudara mereka yang baru ‘tumbuh’.
Cukup membuat mata murid murid lelaki melotot. Dengan diiringi lagu-lagu techno mereka semua yang muda belia seumuran gue meliak-liukan badannya dengan seksi. Seiring lompatan atau gerakan seksi mereka payudara mereka bergoyang-goyang indah dan bergetar-getar!indahnya serasa dunia saat itu
Mata saya hanya tertuju pada melia. Selain karena wajahnya yang cantik, ia juga memiliki payudara yang cukup seksi tentunya. Rambutnya yang tergerai panjang menambah seksi tubuh indahnya. Walaupun ada pula teman 1 tim dancernya yang saya pikir cukup bohai juga.
Mulai dari payudara yang lebih besar dari melia, ia juga memiliki paha yang gempal. Namun perhatian gue tetap tertuju pada melia. Wajar aja gue merhatiin terus, menurut gue dia cewek paling seksi secara fisik maupun non.Setelah mereka bermodern dance ria & membangkitkan gairah pada laki-laki, dengan keringat bercucuran di kening, leher & bagian-bagian lainnya, mereka segera berganti baju.
melia segera menuju kelas untuk kembali mengenakn seragamnya. Seiring langkahnya berjalan, payudaranya yang baru tumbuh bergoyang-goyang. Kemudian setelah ia mengambil pakaian ganti dari tasnya, ia pun menuju ke wc untuk berganti baju.
Lalu gue ikutin dia dr belakang. Terlihat, tali branya nyeplak karena keringat yg basah ke tubuhnya. wowww sedapnyo. Setelah masuk itu, ia masuk ke kamar mandi. Tanpa ia sadari bra dan celana dalemnya yg berwarna hitam jatuh di depan pintu kamar mandi.
Gue pun langsung saja mengambil bra an cdnya yang jatuh tersebut dan langsung gue pegang. Gue pun masuk ke kamar mandi cowo dengan tujuan mau kencing tanpa maksud untuk menyembunyikan ke dua barang tersebut. Di dalam pikiran gue, gue akan berikan setelah gue kencing.
Setelah gue kencing, gue liat amelia mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Langsung aja gue tegor,
“Nyari apa melia?”
“Eh lo ryo, ini nih gue nyari bh sm cd gue, lo lyat gak?”
“Ohhh, ini mksd lo?” Langsung gue tunjukin bra dan cdnya.
“Iya, ni dia yg gue cari. Ni lo nemu dimana?”
“Ni tdi jatoh. Lo ga tau…”
“Oh yawdh, thanks ya ryo.
“Iya sm2 melia.”
“Ywdh deh, gue mo ganti baju dulu yah. Gerah banget nih.”
“Ngapain melia?”
“Ganti baaajuuu… knp?? Mo ikuuut??” Tanya amelia nakal.
“Hhhee. Emg boleh melia??”
“Hmmm…” dia ngeliat ke sekitar. Setelah itu dia langsung nyruh masuk gue untuk 1 kamar mandi dengannya.
“Ywdh yuk masuk.”
“melia, gue mo kencing dulu yah. Lo jangan ngintip.” Langsung gue buka clana gue sambil ngebelakangin amelia. Trus kencing. dan Tiba-tiba melia berkata
“Oh my god. Gede banget ryo barang (Kontol gue) lo” Gue pun kaget.
“melia, dibilang jangan ngintip. Ko ngintip sih?”
“Hhehe. Sori ryo, abis gak sengaja… hehee boong ding, gue penasaran aja pengen liat…”
“Ah, dsar lo melia. Ywdh, ganti baju tadi katanya mo ganti baju?”
“Ywdah”Gue pun memakai clana gue lagi.
Amelia pun sibuk membuka baju dancenya. Trus celananya. Trus branya. Lalu cdnya.
Gue pun merhatiin semuanya.
“Eh ryo, jgn ngeliatin ke sini dong.” Sambil ia menutupi toketnya yg sekel dengan tangan kirinya. Trus memiawnya juga ditutupin sama cdnya yang baru dibuka.
“Hehehe. gue penasaran juga melia…”
“Penasaran??”
“Iya”
“Lo juga tadi penasaran sama barang gue kan?”
“Iya sih” sambil ia senyum-senyum.
“melia, gue mo remes2 toket lo dong. Boleh ga?”
“Ha? Tai lo ryo. Emang lo siapa gue!!”
“Bentar aja melia”
“Tapi gue juga pegang2 barang lo ya ryo? Biar adil.”
“Oh yawdah”dan gw pun ngebuka resleting gue. Nyingkap CD gue. Trus ngeluarin Kontol gue.
Gue dengan semangat ngeremes2 toket amelia yg sekel. Tapi dia agak takut2 buat megang Kontol gue.
“Knp melia? Pegang dong… gue aja udah megang toket lo nih. Sekel banget sih melia toket lo?”
“Ihh, gue baru pertama nih megang barang cowo. Hahaha.”
“Sstt. Jgn kenceng2 ktawanya…”
dan gue mencoba membawa tangannya buat megang Kontol gue secara pelan2 dan sedikit paksaan akhirnya, Kontol gue pun tersentuh oleh tangan amelia.
“Oowwhhh… kocok2 dong melia…” Pinta gue.
Dia pun agak malu2 pas mau ngocok Kontol gue.
Akhirnya pelan2 dia kocok Kontol gue. gue pun sambil ngeremes2 toket dia.
cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep
“Owwhhh… enak melia… agak kenceng dong megangnya…”
“Iya… ohh gede bgt sih ryo?? Lo dah ngaceng ya nih??”
“Iya udah lah. Secara gue ngeremes2 toket lo udah nafsu gini. Pasti dah ngaceng.”
“melia… gue isep yah toket lo??”
“Ihh, gila lo ah.”
“Bentar…”
“Ywdah… nih…” ia pun menyodorkan toketnya ke mulut gue. Tapi ia ngelepasin kocokannya dari Kontol gue.
“melia, sambil kocokin Kontol gue juga dong. Jangan berenti…”
“Uwhh… iya iya… cerewet lo ahh…” Dia pun ngocok Kontol gue agak cepet.
“Aahhhh… ohhhh… enak meliaa…” suara gue mendesah. Trus gue kenyot2 toketny.
“Ahhh… yg cepet lagi melia… oohh… uuhhh… ssshhh…” sambil gue kulum lehernya, trus ke bibirnya.
“melia, sepongin dong sebentar…”
“Ha?”
“Sepongiiin… masukin Kontol gue ke mulut lo… trus kocokin pake mulut lo…”
“Aaahhh!! Gak ahh!! Pake tangan aja yah ryo? Nnti kpn2 deh.” Amelia nolak.
“Bentar meliaa… pengen nihh…” gue memohon.
“Ah lo ryo. Ywdah, tp bentar aja ya”
“iya, sampe keluar…”
“Ahh, tp peju lo jgn dikeluarin dimulut gue!!”
“Iya, gak… nnti kalo gue dah mau muncrat gue cabut Kontol gue dari mulut lo…”
“Yaudah, maen cepet yaa. Takut dicurigain nih gue ntr sama anak2 yang laen.”
“iya” jwab gue.
Amelia pun jongkok di depan gue. Mulutnya pas banget udah berhadepan sama Kontol gue.
Gue pun menyodorkan Kontol gue ke mulutnya. Amelia pun tanpa ragu lagi membuka mulutnya lebar2. gue terus dorong semua Kontol gue masuk ke mulutnya amelia. Setelah itu dia rapetin mulutnya dan mulai menggerakan mulutnya maju mundur sambil skali2 mainin lidah dan bibirnya buat mijet2 Kontol gue.
Kontol gue kerasa agak2 anget. Trus juga ada rasa2 lembek2 enak yg berasal dari lidahnya.
Itu semua gue imbangin dengan ikut gerak2in Kontol gue maju mundur.
“Ooohh… meliaaa… enaaaaaakkk… mmmhhhhhh… ooohhh… sshhhh…” sambil gue belai2 rambutny yg ga terlalu panjang.
“Mmmhhhhh… mmmmhh… mhhhh…” amelia pun mendesah smbil terus nyepongin Kontol gue.
“Ooohhhhhhhhh… teeruusss meliaaaa… ooohhh… eeennnaaakkk… terus melia…”
“Mmhh… mmhhhh…”
“Cepetin lagii meliaaa…” pint ague.
“Mmmhhh… mhhhh… mmmhhhhhhmmhhhh…” amelia pun sedkit agak kewalahan nyepongin Kontol gue.
“Aaahhhh… ooouhhhcchhh… enak meliaaa… oowwwhhhwwwwwhhh… sshhhhhh”
Amelia pun semakin mempercepat kocokan mulutnya di mulut gue. Gue pun mengimbangin dengan memajumundurkan Kontol gue di mulutnya.
Saking terasa cepatnya. Akhirnya gue udah ngerasain kalo peju gue mau keluar.
“Aaohhh… meliaa… gue mau keluar nihhhh…”
Dengan cepat dia ngelepasin mulutnya dari Kontol gue. Trus dia berdiri dari yg sebelumnya pas nyepongin gue dalam posisi jongkok. Gue pun meraih tangan kanannya. Trus gue tuntun buat megang Kontol gue yang udah ngaceng banget krn mau keluar.
“Kocokin yang cepet melia…”
Amelia pun mengocok Kontol gue cepet. Pas dia lagi ngocokin Kontol gue, gue kissing bibirnya yang imut2, sambil kadang2 gue remes2 toketnya yang sekel gak terlalu gede.
Akhirnya setelah kira2 3 menit dikocokin pake tangannya.
“Aaarrghhhh… cchhaaaaaa… gue mauuu keluarrrrr nihh…”
“Uwwhh, ywdah keluarin aja ryo…” dia pun ngarahin Kontol gue ke wc biar peju gue nnti langsung ke buang ke lubang wc tanpa berceceran di lantai.
“Aaarghhh… oooooooooouhhhhhhhh… sssssssshhhhhhhhhhh… aaaaah… gue keluar meliaaa…” akhirnya peju gue pun keluar. Peju gue muncrat 7x. dari mulai banyak sampe keluar setetes setetes.
“Oouhwwww… gila ryo, banyak banget peju lo… duuhh kena tangan gue lagi nih…” amelia pun ngelepasin tangannya dari Kontol gue. Trus dia ngebersihin tangannya yang kena peju gue sedikit pake aer di gayung.
“Uuffhh… iya nih melia, udah lama sih gue gak colai… tapi akhirnya sekarang gue malah dicoliin sama lo… capek nih melia… melia bersihin dong peju gue nih dikit lagi pake mulut lo…” pinta gue kea ca.
“Apa?” amelia kaget.
“Jilatin dikit nih ujung Kontol gue, kan masih ad sisa2 pejunya…”
“Ih males. Gak ah. Jijik gue.”
“Yah, tanggung nih melia… dikit lagi”
“Gak. Nnti aja yah kapan2 ryo…” amelia memberi harapan.
“Huh. Dsar lo melia. Tanggung juga nih. Ywdah deh.”
“Nih gue bersihin peju lo yang di sini aja nih.” Kata Amelia sambil nyiramin aer ke dalem wc yang sebelumnya banyak peju gue.
Setelah nyiramin peju gue yang berceceran di wc, amelia pun kembali berganti baju. Begitu juga gue. Gue pun memakai celana dalem gue lagi kemudian resleting celana panjang gue.
Gue perhatiin amelia. Ia kleiatan seksi banget. Satu persatu ia kenakan pakaiannya. Mulai dari celana dalemnya yang berwana hitam. Branya yang juga berwarna hitam. Namun ia agak kesulitan saat akan mengaitkan branya. Lalu ia pun meminta tolong gue.
“ryo tolong pakein dong.” Ia pun membelakangi gue meminta mengaitkan pengait branya.
“Tapi ada syaratnya yaa…” ucap gue ngeledek.
“Syarat apaan?”
“Tebak dong”
“Hmmm apa ya. Ga tau ah! Udah cepetan pakein!!” ia pun agak sedikit ngotot.
“Itu tuh.” Gue pun menunjuk ke arah memiawnya.
“Ohh ini… lo mau ngewe sama gue?” amelia pun bertanya dengan nada agak sedikit kaget.
“Iaa, gue pengen ngewe sm lo melia… blh ga?”
“Anjjrriitt lo ryo, apa masih kurang yg skrg?”
“Kurang laaaah… gue mau nyicipin tubuh lo pake Kontol gue…”
“Aaaaaaaahhh!”
“Sssstt, jgn kenceng2 melia… Ayoo dong meliaaaa… kpn2 yaaahh?? Ga sekarang kok…” ucap gue memohon lagi.
“Gue masih virgin laaahh ryoo.”
“Ahh yakinnn lo??”
“IYA!”
“Kalo dari toket lo yg gue pegang tadi sih kayanya lo udah ga virgin deh…”
“Hah? Tau dari mana lo???”
“Ya tau laaahh, kalo toket cewe yang udah ga virgin tuh udah agak kendor sedikit, ga terlalu sekel banget…”
“Hahhha gila ya lo, kayanya udah ahli banget nih soal beginian”. Sambil dia sibuk merapikan bajunya.
“Iya dong, makanya kapan2 mau nyoba ngewe sama gue ga?”
“Hmmm gimana yaaaaa, yaa liat nanti aja deehhh”. Sambil berkaca di cermin kecil sambil merapikan rambut dan poninya.
“Yawdahhh nnti kpn2 kita coba yaa??” Ucap gue memastikan.
“Iya ahh, ywdah, gue mau balik ke anak2 dulu nih. Ntr gue dicurigain lagi ganti baju doang kok lama banget.” Dia pun membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
“Sipp, ati2 lo. Thankss meliaa atas handjob dan blowjob lo… Hehhhe”“Haahh, bakalan enak nih kalo seandainya nanti gue ML sama dia” Pikir gue.
dan setelah berapa menit gue keluar dari toilet tersebut perasaan menyesal pun datang menghampiri! biasalah penyesalan selalu datangnya belakangan dan ga pernah duluan! menyesal kenapa ryo? he...menyesal kenapa ya ga gue paksa melia untuk langsung aja ngajakin ngentot!hahahaha...
Sekian.
sumber
Pada hari jadinya sekolah kami mengadakan berbagai acara yang sangat heboh dan ga kalah seru pastinya sob! mulai dari pentas musik aneka band, aneka lomba2 seperti lomba antar kelas sampai lomba modern dance. Namun lomba modern dance ini tidak diadakan antarkelas, tetapi antar angkatan yang membuat acara ini seru adalah suporter dari masing2 kelas dan angkatan yang saling adu mulut sampai adu jotos untuk team yang mereka jagokan!biasalah anak muda seperti kami egonya lagi tinggi-tingginya
Ok kembali ke acara ulang tahun sekolah gue ini dimulai dari pukul 9 pagi. Namun gue datang pukul 11 siang!hehe.. maklum lah anak bandel yang suka nyari sensasi dan sengaja gue datangnya telat hanya untuk nonton band2 ibu kota dan menyaksikan lomba modern dance saja. Dan akhirnya saat yang dinanti datang juga.
Modern dance angkatan kelas 3 yaitu angkatan gue sendiri yang beranggotakan 5 orang. Namun yang gue kenal dekat hanya melia yang memiliki nama lengkap Putri Amelia Candra. ohhh ya gw kok sudah mengenalin orang lain padahal gue aja belom kenalan!he..nama gw ryo sob nama panjangnya ga usah deh ya jelek soalnya :P
Acara pun dimulai dari penampilan kelas 1 lalu iikuti kelas 2 dan yang menjadi penutup adalah kelas 3. Mereka mulai masuk ke tengah lapangan. Pakaian yang mereka kenakan cukup seksi. Walaupun di bagian perutnya tidak terbuka. Pakaian yang mereka kenakan cukup ketat pastinya, menonjolkan payudara payudara mereka yang baru ‘tumbuh’.
Cukup membuat mata murid murid lelaki melotot. Dengan diiringi lagu-lagu techno mereka semua yang muda belia seumuran gue meliak-liukan badannya dengan seksi. Seiring lompatan atau gerakan seksi mereka payudara mereka bergoyang-goyang indah dan bergetar-getar!indahnya serasa dunia saat itu
Mata saya hanya tertuju pada melia. Selain karena wajahnya yang cantik, ia juga memiliki payudara yang cukup seksi tentunya. Rambutnya yang tergerai panjang menambah seksi tubuh indahnya. Walaupun ada pula teman 1 tim dancernya yang saya pikir cukup bohai juga.
Mulai dari payudara yang lebih besar dari melia, ia juga memiliki paha yang gempal. Namun perhatian gue tetap tertuju pada melia. Wajar aja gue merhatiin terus, menurut gue dia cewek paling seksi secara fisik maupun non.Setelah mereka bermodern dance ria & membangkitkan gairah pada laki-laki, dengan keringat bercucuran di kening, leher & bagian-bagian lainnya, mereka segera berganti baju.
melia segera menuju kelas untuk kembali mengenakn seragamnya. Seiring langkahnya berjalan, payudaranya yang baru tumbuh bergoyang-goyang. Kemudian setelah ia mengambil pakaian ganti dari tasnya, ia pun menuju ke wc untuk berganti baju.
Lalu gue ikutin dia dr belakang. Terlihat, tali branya nyeplak karena keringat yg basah ke tubuhnya. wowww sedapnyo. Setelah masuk itu, ia masuk ke kamar mandi. Tanpa ia sadari bra dan celana dalemnya yg berwarna hitam jatuh di depan pintu kamar mandi.
Gue pun langsung saja mengambil bra an cdnya yang jatuh tersebut dan langsung gue pegang. Gue pun masuk ke kamar mandi cowo dengan tujuan mau kencing tanpa maksud untuk menyembunyikan ke dua barang tersebut. Di dalam pikiran gue, gue akan berikan setelah gue kencing.
Setelah gue kencing, gue liat amelia mondar-mandir di sekitar kamar mandi. Langsung aja gue tegor,
“Nyari apa melia?”
“Eh lo ryo, ini nih gue nyari bh sm cd gue, lo lyat gak?”
“Ohhh, ini mksd lo?” Langsung gue tunjukin bra dan cdnya.
“Iya, ni dia yg gue cari. Ni lo nemu dimana?”
“Ni tdi jatoh. Lo ga tau…”
“Oh yawdh, thanks ya ryo.
“Iya sm2 melia.”
“Ywdh deh, gue mo ganti baju dulu yah. Gerah banget nih.”
“Ngapain melia?”
“Ganti baaajuuu… knp?? Mo ikuuut??” Tanya amelia nakal.
“Hhhee. Emg boleh melia??”
“Hmmm…” dia ngeliat ke sekitar. Setelah itu dia langsung nyruh masuk gue untuk 1 kamar mandi dengannya.
“Ywdh yuk masuk.”
“melia, gue mo kencing dulu yah. Lo jangan ngintip.” Langsung gue buka clana gue sambil ngebelakangin amelia. Trus kencing. dan Tiba-tiba melia berkata
“Oh my god. Gede banget ryo barang (Kontol gue) lo” Gue pun kaget.
“melia, dibilang jangan ngintip. Ko ngintip sih?”
“Hhehe. Sori ryo, abis gak sengaja… hehee boong ding, gue penasaran aja pengen liat…”
“Ah, dsar lo melia. Ywdh, ganti baju tadi katanya mo ganti baju?”
“Ywdah”Gue pun memakai clana gue lagi.
Amelia pun sibuk membuka baju dancenya. Trus celananya. Trus branya. Lalu cdnya.
Gue pun merhatiin semuanya.
“Eh ryo, jgn ngeliatin ke sini dong.” Sambil ia menutupi toketnya yg sekel dengan tangan kirinya. Trus memiawnya juga ditutupin sama cdnya yang baru dibuka.
“Hehehe. gue penasaran juga melia…”
“Penasaran??”
“Iya”
“Lo juga tadi penasaran sama barang gue kan?”
“Iya sih” sambil ia senyum-senyum.
“melia, gue mo remes2 toket lo dong. Boleh ga?”
“Ha? Tai lo ryo. Emang lo siapa gue!!”
“Bentar aja melia”
“Tapi gue juga pegang2 barang lo ya ryo? Biar adil.”
“Oh yawdah”dan gw pun ngebuka resleting gue. Nyingkap CD gue. Trus ngeluarin Kontol gue.
Gue dengan semangat ngeremes2 toket amelia yg sekel. Tapi dia agak takut2 buat megang Kontol gue.
“Knp melia? Pegang dong… gue aja udah megang toket lo nih. Sekel banget sih melia toket lo?”
“Ihh, gue baru pertama nih megang barang cowo. Hahaha.”
“Sstt. Jgn kenceng2 ktawanya…”
dan gue mencoba membawa tangannya buat megang Kontol gue secara pelan2 dan sedikit paksaan akhirnya, Kontol gue pun tersentuh oleh tangan amelia.
“Oowwhhh… kocok2 dong melia…” Pinta gue.
Dia pun agak malu2 pas mau ngocok Kontol gue.
Akhirnya pelan2 dia kocok Kontol gue. gue pun sambil ngeremes2 toket dia.
cerita sex,cerita dewasa,cerita mesum,cerita ngentot, ngentot artis, cerita bokep
“Owwhhh… enak melia… agak kenceng dong megangnya…”
“Iya… ohh gede bgt sih ryo?? Lo dah ngaceng ya nih??”
“Iya udah lah. Secara gue ngeremes2 toket lo udah nafsu gini. Pasti dah ngaceng.”
“melia… gue isep yah toket lo??”
“Ihh, gila lo ah.”
“Bentar…”
“Ywdah… nih…” ia pun menyodorkan toketnya ke mulut gue. Tapi ia ngelepasin kocokannya dari Kontol gue.
“melia, sambil kocokin Kontol gue juga dong. Jangan berenti…”
“Uwhh… iya iya… cerewet lo ahh…” Dia pun ngocok Kontol gue agak cepet.
“Aahhhh… ohhhh… enak meliaa…” suara gue mendesah. Trus gue kenyot2 toketny.
“Ahhh… yg cepet lagi melia… oohh… uuhhh… ssshhh…” sambil gue kulum lehernya, trus ke bibirnya.
“melia, sepongin dong sebentar…”
“Ha?”
“Sepongiiin… masukin Kontol gue ke mulut lo… trus kocokin pake mulut lo…”
“Aaahhh!! Gak ahh!! Pake tangan aja yah ryo? Nnti kpn2 deh.” Amelia nolak.
“Bentar meliaa… pengen nihh…” gue memohon.
“Ah lo ryo. Ywdah, tp bentar aja ya”
“iya, sampe keluar…”
“Ahh, tp peju lo jgn dikeluarin dimulut gue!!”
“Iya, gak… nnti kalo gue dah mau muncrat gue cabut Kontol gue dari mulut lo…”
“Yaudah, maen cepet yaa. Takut dicurigain nih gue ntr sama anak2 yang laen.”
“iya” jwab gue.
Amelia pun jongkok di depan gue. Mulutnya pas banget udah berhadepan sama Kontol gue.
Gue pun menyodorkan Kontol gue ke mulutnya. Amelia pun tanpa ragu lagi membuka mulutnya lebar2. gue terus dorong semua Kontol gue masuk ke mulutnya amelia. Setelah itu dia rapetin mulutnya dan mulai menggerakan mulutnya maju mundur sambil skali2 mainin lidah dan bibirnya buat mijet2 Kontol gue.
Kontol gue kerasa agak2 anget. Trus juga ada rasa2 lembek2 enak yg berasal dari lidahnya.
Itu semua gue imbangin dengan ikut gerak2in Kontol gue maju mundur.
“Ooohh… meliaaa… enaaaaaakkk… mmmhhhhhh… ooohhh… sshhhh…” sambil gue belai2 rambutny yg ga terlalu panjang.
“Mmmhhhhh… mmmmhh… mhhhh…” amelia pun mendesah smbil terus nyepongin Kontol gue.
“Ooohhhhhhhhh… teeruusss meliaaaa… ooohhh… eeennnaaakkk… terus melia…”
“Mmhh… mmhhhh…”
“Cepetin lagii meliaaa…” pint ague.
“Mmmhhh… mhhhh… mmmhhhhhhmmhhhh…” amelia pun sedkit agak kewalahan nyepongin Kontol gue.
“Aaahhhh… ooouhhhcchhh… enak meliaaa… oowwwhhhwwwwwhhh… sshhhhhh”
Amelia pun semakin mempercepat kocokan mulutnya di mulut gue. Gue pun mengimbangin dengan memajumundurkan Kontol gue di mulutnya.
Saking terasa cepatnya. Akhirnya gue udah ngerasain kalo peju gue mau keluar.
“Aaohhh… meliaa… gue mau keluar nihhhh…”
Dengan cepat dia ngelepasin mulutnya dari Kontol gue. Trus dia berdiri dari yg sebelumnya pas nyepongin gue dalam posisi jongkok. Gue pun meraih tangan kanannya. Trus gue tuntun buat megang Kontol gue yang udah ngaceng banget krn mau keluar.
“Kocokin yang cepet melia…”
Amelia pun mengocok Kontol gue cepet. Pas dia lagi ngocokin Kontol gue, gue kissing bibirnya yang imut2, sambil kadang2 gue remes2 toketnya yang sekel gak terlalu gede.
Akhirnya setelah kira2 3 menit dikocokin pake tangannya.
“Aaarrghhhh… cchhaaaaaa… gue mauuu keluarrrrr nihh…”
“Uwwhh, ywdah keluarin aja ryo…” dia pun ngarahin Kontol gue ke wc biar peju gue nnti langsung ke buang ke lubang wc tanpa berceceran di lantai.
“Aaarghhh… oooooooooouhhhhhhhh… sssssssshhhhhhhhhhh… aaaaah… gue keluar meliaaa…” akhirnya peju gue pun keluar. Peju gue muncrat 7x. dari mulai banyak sampe keluar setetes setetes.
“Oouhwwww… gila ryo, banyak banget peju lo… duuhh kena tangan gue lagi nih…” amelia pun ngelepasin tangannya dari Kontol gue. Trus dia ngebersihin tangannya yang kena peju gue sedikit pake aer di gayung.
“Uuffhh… iya nih melia, udah lama sih gue gak colai… tapi akhirnya sekarang gue malah dicoliin sama lo… capek nih melia… melia bersihin dong peju gue nih dikit lagi pake mulut lo…” pinta gue kea ca.
“Apa?” amelia kaget.
“Jilatin dikit nih ujung Kontol gue, kan masih ad sisa2 pejunya…”
“Ih males. Gak ah. Jijik gue.”
“Yah, tanggung nih melia… dikit lagi”
“Gak. Nnti aja yah kapan2 ryo…” amelia memberi harapan.
“Huh. Dsar lo melia. Tanggung juga nih. Ywdah deh.”
“Nih gue bersihin peju lo yang di sini aja nih.” Kata Amelia sambil nyiramin aer ke dalem wc yang sebelumnya banyak peju gue.
Setelah nyiramin peju gue yang berceceran di wc, amelia pun kembali berganti baju. Begitu juga gue. Gue pun memakai celana dalem gue lagi kemudian resleting celana panjang gue.
Gue perhatiin amelia. Ia kleiatan seksi banget. Satu persatu ia kenakan pakaiannya. Mulai dari celana dalemnya yang berwana hitam. Branya yang juga berwarna hitam. Namun ia agak kesulitan saat akan mengaitkan branya. Lalu ia pun meminta tolong gue.
“ryo tolong pakein dong.” Ia pun membelakangi gue meminta mengaitkan pengait branya.
“Tapi ada syaratnya yaa…” ucap gue ngeledek.
“Syarat apaan?”
“Tebak dong”
“Hmmm apa ya. Ga tau ah! Udah cepetan pakein!!” ia pun agak sedikit ngotot.
“Itu tuh.” Gue pun menunjuk ke arah memiawnya.
“Ohh ini… lo mau ngewe sama gue?” amelia pun bertanya dengan nada agak sedikit kaget.
“Iaa, gue pengen ngewe sm lo melia… blh ga?”
“Anjjrriitt lo ryo, apa masih kurang yg skrg?”
“Kurang laaaah… gue mau nyicipin tubuh lo pake Kontol gue…”
“Aaaaaaaahhh!”
“Sssstt, jgn kenceng2 melia… Ayoo dong meliaaaa… kpn2 yaaahh?? Ga sekarang kok…” ucap gue memohon lagi.
“Gue masih virgin laaahh ryoo.”
“Ahh yakinnn lo??”
“IYA!”
“Kalo dari toket lo yg gue pegang tadi sih kayanya lo udah ga virgin deh…”
“Hah? Tau dari mana lo???”
“Ya tau laaahh, kalo toket cewe yang udah ga virgin tuh udah agak kendor sedikit, ga terlalu sekel banget…”
“Hahhha gila ya lo, kayanya udah ahli banget nih soal beginian”. Sambil dia sibuk merapikan bajunya.
“Iya dong, makanya kapan2 mau nyoba ngewe sama gue ga?”
“Hmmm gimana yaaaaa, yaa liat nanti aja deehhh”. Sambil berkaca di cermin kecil sambil merapikan rambut dan poninya.
“Yawdahhh nnti kpn2 kita coba yaa??” Ucap gue memastikan.
“Iya ahh, ywdah, gue mau balik ke anak2 dulu nih. Ntr gue dicurigain lagi ganti baju doang kok lama banget.” Dia pun membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
“Sipp, ati2 lo. Thankss meliaa atas handjob dan blowjob lo… Hehhhe”“Haahh, bakalan enak nih kalo seandainya nanti gue ML sama dia” Pikir gue.
dan setelah berapa menit gue keluar dari toilet tersebut perasaan menyesal pun datang menghampiri! biasalah penyesalan selalu datangnya belakangan dan ga pernah duluan! menyesal kenapa ryo? he...menyesal kenapa ya ga gue paksa melia untuk langsung aja ngajakin ngentot!hahahaha...
Sekian.
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)

