Halaman

Cerita Dewasa | Kenikmatan Terlarang Gauli Ibu Dan Adik Kandung

Kuliah adalah tempat seseorang untuk menuntaskan cita-citanya. Dan juga mungkin tempat di mana kita akan mengenal sebuah dunia baru. Dunia ini begitu luas, sampai-sampai kita tak sadar bahwa dunia itu sedikit demi sedikit mempengaruhi kita. Kita tak heran banyak orang-orang yang pergi kuliah pulang ke kampung halamannya sudah berubah drastis. Dari mereka yang sifatnya lugu menjadi sok gaul, dari mereka yang sifatnya jelek bisa jadi pulang menjadi orang yang alim banget. Inilah yang terjadi padaku, sebuah pengalaman yang entah aku harus menyebutnya apa. Namaku Gun, sebut saja begitu. Seorang mahasiswa fakultas Tehnik di kampus X, salah satu PTS terkenal di kota Y.

Ada perasaan kangen sebenarnya ama kampung halaman. Dan perasaan itu pun masih ada sampai sekarang, maklum karena kesibukanku, aku pulang hanya setahun sekali. Selain mengikuti organisasi kampus dan banyak ekstrakulikuler, aku juga dihadapkan pada jadwal perkuliahan yang padat. Namun pada semester kelima ini, aku mau mengambil cuti untuk beberapa waktu. Kabar tak enak datang dari kampung halaman. Baru saja keluargaku di kampung halaman mendapatkan musibah, sebuah kecelakaan. Ayah meninggal dan ibuku mengalami koma. Sedangkan adikku baik-baik saja. Mulai dari sinilah kehidupanku berubah.

Ayah yang satu-satunya orang yang membiayai kuliahku pergi. Sehingga dari sini, aku harus membanting tulang sendirian, untuk ibuku, adikku dan diriku sendiri. Akhirnya kuliah ini aku tunda dulu. Aku mengajukan cuti satu semester. Waktu cuti itu aku manfaatkan untuk membanting tulang. Aku tak bisa mengandalkan dari warisan ayahku. Sebab kalau aku mengandalkannya, aku tak bisa membiayai semua keperluan kami. Dan syukurlah aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta, walaupun berbekal kemampuanku di bidang analisis data, aku mendapatkan gaji yang cukup.

Ibuku adalah seorang wanita yang sangat cantik sebenarnya. Usianya baru 38 tahun. Ia menikah muda dengan ayahku. Dan sampai sekarang ia tetap bisa menjaga kemolekan tubuhnya. Pernah sih waktu masih remaja aku beronani membayangkan ibuku sendiri. Tapi hal itupun tak berlangsung lama, hanya beberapa saat saja. Dan adikku masih sekolah SMP, namanya Arin. Seorang gadis periang, cantik dan imut. Banyak cowok2 yang tergila-gila pada adikku itu. Dan paling tidak ada salah satu teman cowoknya yang pedekate ama dia, tapi yaaamasih takut-takut.

Dua minggu setelah kecelakaan itu, ibuku sadar dari komanya. Mulanya ia tak ingat apa-apa, namun setelah tiga hari berada di rumah, ia pun ingat. Tapi karena kondisinya yang masih lemah, ia pun tak bisa berbuat banyak. Aku dan Arin gantian menjaganya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya beliau benar-benar menyayangiku. Katanya ia mengingatkanku pada ayah. Aku tahu ia sangat shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Aku dan Arin terus berusaha menghiburnya, sampai ia benar-benar sehat.

Hari itu seperti hari-hari sebelumnya, tapi sedikit istimewa, karena teman-teman kuliahku mau mengunjungiku. Ketika pulang kerja, kami sempatkan sejenak untuk berkumpul. Mereka semua ikut berbela sungkawa terhadap keadaanku sekarang. Tapi selain itu mereka mencoba menghiburku, ada-ada saja ulah mereka, yaitu memberiku kaset bokep, dan majalah2 hardcore. Kata mereka, Ini buat menghibur loe sobat, biar nggak berduka terus. Sialan. Tapi nggak apa-apalah, soalnya juga sudah lama aku nggak nonton yang begituan. Namun ternyata inilah sumber dari kejadian selanjutnya.

Aku pulang dan aku lihat adikku sedang belajar di kamarnya. Ibuku sudah bisa sedikit berjalan, walau masih berpegangan pada apapun yang ada di dekatnya.

Kau sudah pulang Gun?, tanyanya.

Iya bu, kataku.

Kalau mau makan, di meja makan tadi adikmu beli sesuatu, kata ibuku.

iya, kataku singkat.

Singkatnya aku mandi dan mengurung diri di kamar. Aku pun mulai menonton bokep dan majalah-majalah hardcore. Mulanya sih agak aneh aja aku melakukan hal ini, tapi rupanya sedikit bisa menghiburku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, aku tak sadar kalau sudah lama aku berada di dalam kamar mengocok sendiri punyaku dan menontoni tubuh para wanita itu. Aku keluar kamar dengan maksud hati untuk makan apa pun yang ada di meja makan.

Ketika keluar dari kamar, aku melewati kamar ibuku. Astaga, apa yang aku lihat itu? Ibuku yang memakai daster itu tampak tersingkap dasternya, sehingga aku bisa melihat CD-nya. Memang badannya masih mulus. Aku mulai berpikiran jorok, ini pasti akibat barusan aku nonton bokep. Wajahnya masih cantik, dan aku bisa melihat wajahnya yang polos ketika tidur. Aku berdiri di pintu kamarnya, memang pintunya sengaja di buka agar sewaktu-waktu kalau ia memanggilku aku bisa dengar. Entah setan mana yang menguasaiku, akupun mengocok punyaku sambil membayangkan beliau membelai punyaku. Aku kocok pelan-pelan. Ohh.Mega.., aku panggil nama ibuku berbisik. Aku terus mengocok, makin lama makin cepat, dan maniku muncratCROOT.CROTT, banyak banget sampai mengotori lantai, buru-buru aku bersihkan dengan kain pel yang ada di sebelah pintu. Entah kenapa aku mulai berpikiran seperti itu. Namun rencana jelekku nggak sampai di situ saja.

Esoknya, aku libur, sebab hari ini adalah hari sabtu. Kantorku sabtu dan minggu libur. Arin sudah pergi ke sekolah. Aku bangun agak kesiangan. Mungkin kelelahan karena peristiwa kemarin. Aku pun entah dari mana punya pikiran yang aneh-aneh lagi. Aku berniat memandikan ibuku, aku ingin melihat tubuhnya yang utuh. Aku pun ke kamar ibuku, ia sudah bangun dan sedang bersiap mandi.

Ibu, ibu mau mandi?, tanyaku.

Iya Gun, katanya.

Boleh Gun, mandiin ibu?, tanyaku.

Nggak usah Gun, ibu sudah bisa sendiri koq, jawabnya.

Nggak apa-apa bu, kondisi ibu masih belum pulih benar, kataku merayu.

Tak punya pikiran lainnya, ibuku pun menjawab, Baiklah.

Akupun mengantarnya ke kamar mandi. Inilah saatnya pikirku. Aku melihatnya melepas daster, BH dan CD-nya satu per satu. Tampaklah dua buah toket yang masih mancung dan miss-v yang aku ingin lihat dari dulu. Aku hanya terbengong, dan tak terasa tongkolku sudah tengah. Darah mengalir cepat ke ubun-ubunku.

Kenapa Gun?, tanya ibu.

Ah..nggak apa-apa , jawabku.

Bajunya dilepas dong Gun, nanti basah, kata ibuku. Kamu belum mandi juga kan?

Iiya,kataku.

Aku pun melepas pakaianku. Ibuku agak terkejut melihat punyaku yang tegang. Lalu dia duduk di pinggir bak mandi. Seakan mengerti, akupun mengambil gayung dan menyiramkan ke tubuhnya. Ia membasuh mukanya, ia ganti mengambil gayung dan menyiramkannya ke tubuhku. Kami benar-benar saling menggayung. Tibalah saat menyabun. Aku mengambil sabun cair. Kusabuni punggungnya. Busanya melimpah, lalu dari belakang aku menyusuri pundak, hingga ke depan, aku agak takut menyentuh dadanya. Takut kalau dia marah. Tapi ternyata tidak. Akupun sedikit membelai toketnya, dan agak meremas. Kami diam, dan hanya bahasa tubuh saja yang saling berucap. Ku basuh dari dadanya, hingga ke perut. Ketika mau menuju miss-v, ibuku menahan.

Jangan pakai sabun ini, tidak baik untuk kewanitaan, katanya. Bersihkan dulu tubuh ibu.

Aku pun menurut, aku guyang ia pakai air. Sabun yang ada di tubuhnya hilang, lalu ia mengambil pembersih khusus kewanitaan. Lalu menyerahkannya kepadaku. Aku mengerti lalu mulai menyabun tempat itu pakai sabun tersebut. Mulanya aku hanya sekedar menggosok, tapi lama-lama aku sedikit menyentuh kelentitnya, ibuku memejamkan mata sejenak. Sepertinya ia keenakan, aku teruskan, namun aku tak berani lama-lama. Ia agak tersentak ketika aku menyudahinya. Ia menghirup nafas agak dalam, sepertinya ia sedikit horni.

Aku mengguyang air di daerah kewanitaannya. Bersihlah sudah sekarang. Lalu giliranku. Aku disabun oleh ibuku. Mula-mula punggung, dadaku yang bidang, lalu perut, dan sampai di tongkolku yang tegang. Ia mengurut tongkolku sesaat, lalu menggosok buah pelirku, sepertinya ia tahu bagian-bagian itu. Enak sekali sentuhan ibuku.

Ebuboleh Gun minta sesuatu?, tanyaku.

Apa itu?

Gun kan sudah dewasa, dan mengerti soal beginian. Kalau boleh aku ingin ibu mengocok punya Gun sebentar bu, aku mengatakan hal yang aneh-aneh. Yang memang tak perkikirkan sebelumnya.

Ibuku terdiam.

Maaf bu, aku tak bermaksud demikian, hanya saja, aku sebagai laki-laki normal siapa saja, pasti akan merasakan hal seperti ini, kataku.

Iya, ibu faham, anak ibu sudah dewasa, katanya.

Tangannya yang lembut itu pun akhirnya mengocok punyaku, membelainya. Ohapa ini? Aku serasa melayang. Ia benar-benar mengocok tongkolku yang sudah tegang. Peristiwa itu sangat erotis sekali. CLUK.CLUKCLUKbunyi tongkolku yang dikocok berpadu dengan air sabun. Busanya sangat banyak, aku ingin sekali meremas toket ibuku.

Bu, boleh Gun meremas dada ibu?, tanyaku. Gun sangat terangsang sekali.

Maafkan ibu nak, seharusnya tidak begini. Gun tak boleh macam-macam sama ibu, ibu sakit Gun, kata ibu.

Kalau ibu tidak mengijinkan juga tidak apa-apa, tapi Gun tidak tahan lagi, kataku.

Aku pun mencengkram pundak ibuku, pertanda mau orgasme. Ibuku tahu hal itu, dan ia mengocok tongkolku dengan cepat, CROOT..CROOT..CROT.sperma muncrat ke wajahnya, dadanya, dan perutnya. Banyak sekali. Sebagian membeler di jemarinya.

Sudah Gun?, tanya ibu.

Iiya, kataku lemas.

Ibuku lalu membersihkan spermaku yang ada di tubuhnya dengan membasuhnya dengan air.

Jangan bilang ini sama Arin ya, katanya. Atau orang lain.

Kami segera keluar dari kamar mandi. Entah apa yang aku lakukan barusan. Tapi aku sangat menikmatinya. Ibuku dan aku hanya memakai handuk saja. Aku membawanya sampai ke kamar. Di kamar aku masih horny, dengan posisi ibuku yang sekarang hanya pakai handuk saja, membuatku makin terangsang.

Aku tak kuasa menahan godaan ini. Setelah ibuku aku dudukkan. Aku duduk di sebelahnya.

Bu, maaf kalau tadi Gun lancang di kamar mandi, kataku.

Tak apa-apa Gun, laki-laki normal pun pasti demikian, bahkan bisa lebih, kata ibuku.

Bu, apakah boleh Gun lihat lagi dada ibu?, tanyaku.

Buat apa Gun?, tanyanya. Ibu masih sakit Gun.

Sebentar saja bu, boleh ya?, tanyaku.

Baiklah, katanya.

Ia membuka handuknya, tampaklah dua buah bukit kembar yang aku inginkan. Aku memegang putingnya, entah kenapa tiba-tiba aku menyusu di sana.

OhGunjangan Gun.ahkk, ibuku tampak tak melawan walaupun aku menghisap susunya. Mengunyah putingnya, menggigit dan meremas keduanya. Tak terasa, ia sudah berbaring tanpa sehelai benang pun. Aku pun menciumi perutnya, hingga ke miss-v-nya. Miss-v-nya yang keset membuatku makin bergairah. Ibuku terus meronta jangan dan jangan. Aku tak peduli, nafsu sudah di ubun-ubun. Ibuku tampak terangsang dengan perlakukanku itu. Ia pun secara tak sengaja membuka pahanya, tongkolku sudah siap, dan aku sudah ada di atas ibuku. Kedua bibir kemaluan bertemu. Ibuku tampak meneteskan air mata.

Maaf, bu, tapi Gun tak kuasa menahan ini, kataku lagi.

Penisku kugesek-gesekkan di bibir miss-v-nya. Agak geli dan enak. Ini adalah aku melepaskan keperjakaanku kepada ibuku sendiri. Aku senggol-senggol klitorisnya, ibuku memejamkan mata, ia menggelinjang, setiap kali kepala penisku menyentuhnya. Lalu akupun memasukkannya. Miss-v-nya sudah basah sekali. Tak perlu tenaga banyak untuk bisa masuk. SLEEB!! Sensasinya luar biasa. Aku tak peduli ia ibuku atau bukan sekarang. Aku sudah menggenjotnya naik turun. Pinggulku aku gerakkan maju mundur dengan ritme sedang. Kurasakan sensai miss-v ibuku yang masih seret menjepit tongkolku yang panjang dan besar itu. Aku usahakan ibuku juga merasakan sensasi ini. Aku angkat bokongnya, aku remas. Kakinya mulai kejang dan menjepit pinggangku.

Ohh.Ahhterus Guncepat selesaikan, cepat Gun., kata ibuku. Ia mencengkram sprei tempat tidur. Ia menggigit bibirnya. Wajahnya yang cantik dan bibirnya yang seksi membuatku terangsang. Dadanya naik turun, ohseksi sekali.

Mega, tubuhmu nikmat Megaahh.aku ingin ngent*t terus denganmu, aku ingin keluar MegaOOHHAhhhh, aku percepat goyanganku. Ibuku pun sepertinya mau keluar, ia bangkit dengan bertumpu kepada kedua tangannya, pertanda orgasme. Aku juga keluar. Spermaku muncrat di dalam rahimnya, aku tekan kuat-kuat. Akhirnya fantasiku untuk ngent*t dengan ibuku sendiri kesampaian. Aku benamkan dalam-dalam penisku, sampai spermaku benar-benar tak keluar lagi. Ibuku lemas. Ia masih beralaskan handuk bekas mandi. Aku perlahan mencabut penisku. PLOP..!! suaranya ketika aku cabut.

Maafkan aku bu, tapi enak sekali, kataku.

Aku berbaring di samping ibuku. Ibuku memukulkan tangannya ke dadaku. Kamu bajingan!! Ibuku lalu menangis. Ia membelakangiku, sambil memeluk dirinya sendiri.

Butuh waktu lama untuk dirinya bisa diam. Sampai kurang lebih 30 menit kemudian, nafsuku bangkit lagi, karena masih melihatnya telanjang. Aku mempersiapkan penisku yang tegang lagi. Kali ini bukan fantasi, inilah yang aku rasakan. Aku mendekatkan penisku ke pantatnya, aku sentuh pinggulnya, lalu aku masukkan penisku ke vaginanya. Nggak perlu susah-susah dan Bless.AahGun, kamu mau apa lagi? Tidak cukupkah kamu menyiksa ibu?

Gun, tak tahan nih bu, Gun jugakan masih perjaka, kataku. Posisiku kini dari samping. Dan aku keluar masukkan penisku. Pantatnya dan perutku beradu. Sensasinya luar biasa. Pantatnya benar-benar seksi, semok dan menggiurkan. Aku tak butuh waktu lama untuk bisa ejakulasi lagi di dalam rahimnya. Dan ketika puncak itu aku memeluk ibuku.

Sensasinya aneh memang, tapi nikmat sekali. Setelah itu aku benar-benar memohon maaf.

Maafkan Gun bu, maafkan Gun, kataku.

Lalu ibuku menyuruhku untuk keluar kamar. Aku pun keluar. Aku kembali ke kamarku dan memikirkan apa yang terjadi barusan. Aku sudah menjadi anak durhaka.

*******

Arin pulang. Ibuku bertingkah seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi tatapan kami mempunyai arti. Antara malu, takut dan senang aku bingung.

Esoknya, hari minggu. Ibuku tampak agak senang. Kesehatannya sedikit pulih. Ia bisa berjalan normal. Ia seolah melupakan kejadian kemarin. Apakah mungkin gara-gara apa yang aku lakukan kemarin? Bisa jadi. Tak perlu waktu lama memang untuk bisa mencerahkan wajahnya lagi. Ia sudah senang dengan perkembangan kesehatannya.

Malamnya, ibuku ingin tidur di kamarku. Entah kenapa ia ingin begitu. Dan aku pun mengiyakannya. Pukul 12 malam. Ketika Arin sudah tidur. Dan aku berada di samping ibuku. Kami seranjang. Aku tahu bisa saja saat itu aku sudah bercinta dengannya, tapi ada sesuatu yang membuat kami tidak melakukannya.

Sepertinya kesehatan ibu mulai pulih akibat itu Gun, katanya.

Tapi inikan baru satu hari bu, dan Gun sangat menyesal melakukannya kemarin, kataku.

Ibu bangkit, lalu ia menurunkan celana pendekku. Tanpa babibu, ia sudah mengulum penisku. Aku kaget mendapatkan sensasi itu. Tidak ada wajah jaim, tidak ada rasa penyesalan seperti kemarin. Ia sudah mengulum penisku, seorang Blow Jober pro. Ia mengocok, mengulum, menjilat. Dengan ganas ia lumat tongkolku dengan mulutnya yang seksi itu. Ia juga gesek-gesekkan ujung penisku ke putingnya, lalu ia jepit dengan dadanya. Akupun tak menyia-nyiakan ini, aku segera melepas bajuku, lalu bajunya. Kami sudah telanjang, dan ia masih mengoralku. Aku berbaring dengan menikmati sensasi yang sedikit aneh, tapi nikmat. Oh tidak, rasanya aku mau keluar.sedotannya benar-benar mantap. Aku tak kuasa lagi danaahh..benarCROTCROTCROTspermaku tak sebanyak kemarin pagi. Tapi cukup untuk memenuhi isi mulutnya. Ia menyedot spermaku sampai habis.

Nih lihat, kata ibuku sambil membuka sedikit mulutnya. Aku bisa lihat lidahnya yang terbungkus cairan putih spermaku.

Ibu hebat, kataku.

Ibu masih belum puas, katanya. Ia lalu menelan spermaku bulat-bulat.Ah..

Aku bangkit dan langsung nenen. Aku menenen kepadanya seperti bayi, kali ini kami All Out. Tidak seperti kemarin. Kami saling mendesat, saling menggigit. Ibuku ada di atas, dan aku berbaring. Penisku sudah tegang lagi dan mengacung ke atas. Ia berjongkok dan menuntun penisku masuk miss-v-nya dengan tangannya. Ia pun naik turun sambil tangannya bertumpu pada pahaku. Makin lama ia makin cepat gerakannya. Aku juga tak kuasa, bahkan aku bisa-bisa jebol duluan. Ia tahu kalau aku mau jebol, Ia hentikan gerakannya, ia ganti dengan meremas-remas telurku. Ohini baru, tehnik baru. Ketika ia meremas telurku, tampak nafsuku yang sudah dipuncak tiba-tiba hilang. Lalu setelah beberapa saat kemudian, ia bergoyang lagi naik turun. Ia terus mengulangi hal itu kalau aku mau ke puncak, rasanya spermaku berkumpul di ujung penisku. Seolah-olah pijatan itu membuatku seperti menahan bom. Dan benar, ketika ibuku mau orgasme, ia lebih cepat bergerak. Ia naik turunkan lebih cepat dari sebelumnya, ia tak lagi bertumpu di pahaku, tapi di dadaku. Dan ia mengigau, OhGunOhanak mama yang nakal.tongkolmu gedhe Gun. Nikmat banget. Ibumu ini jadi budakmu GunAhhSampaisampaiibu mau sampai, kamu juga ya sayang, basahi rahim ibumu, hamili ibumu ini.

Aku pun keluar dan langsung bangkit memeluk ibuku. Kami orgasme bersama-sama. Vaginanya sangat basah, begitu juga punyaku. Sperma itu masuk ke rahimnya lagi. Banyak sekali, dan benar, spermaku tadi yang tertahan terkumpul di ujung dan melepas dengan semprotan yang luar biasa. Kami berpandangan sesaat, aku mencium bibirnya. Kami berciuman, aku masih memangkunya, dan tak perlu waktu lama. Kami ambruk dan saling berpelukan. Kami tertidur.

******

Hubunganku dan ibuku sendiri sekarang sudah seperti suami istri. Aku tak tahu bagaimana kami menyebutnya. Setiap malam aku selalu melakukannya, bahkan tidak tiap malam. Hampir setiap hari, dan kesehatan ibuku makin membaik dari hari ke hari. Dokter pun terheran-heran dengan hal ini. Dan setiap hari kami melakukan gaya yang berbeda-beda. Dan lambat laun hal ini pun tercium oleh Arin.

Suatu saat ketika ibu tidur lebih awal, sehabis main denganku. Aku nonton tv. Di ruang tengah tampak Arin juga ada di sana. Aku duduk berdekatan.

Aku tahu kakak gituan sama ibu, kata Arin.

Aku kaget tentu saja.

Gituan gimana?, tanyaku jaim.

Alaah, nggak usah sok alim deh kak. Kakak ngent*t ama ibu kan?, tanyanya.

Kalau iya kenapa?, tanyaku menantang.

Asal ibu bahagia saja, Arin senang. Walau pun agak aneh rasanya kakak yang melakukan itu ama ibu, katanya.

Kamu kepengen ya?,

Nggak ah

Alah, kalau kau mau bilang aja, nggak usah malu-malu, atau kamu sudah pernah gituan ya?

Belum pernah, dan jangan ngejek ya!?

Kakak nggak percaya, kamu pasti udah nggak perawan, kataku.

Kakak jahat!, katanya sambil memukul bahuku.

Aduh, koq mukul, kataku.

Habisnya kakak jahat!, katanya.

Kau harus tahu, aku melakukan ini juga untuk kesembuhan ibu, semakin kakak melakukannya ibu semakin membaikkan?

Arin diam sejenak, Iya juga sih, ibu makin membaik.

Mau tau rahasia?, tanyaku.

Apa ?, tanyanya.

Sebenarnya sudah sejak dari dulu kakak ingin begini sama ibu, kataku.

Busettkakak ternyata, Arin menggeleng-geleng.

Yeeini juga karena memang ibu wanita yang cantik, kataku. Apalagi kakak juga sudah dewasa kan?

Entah bagaimana aku juga ingin begitu dengan adikku. Melihat dia hanya pakai celana pendek, bahkan aku bisa melihat putingnya yang menonjol. Kebiasaan dia kalau di rumah tak pakai BH. Alasannya gerah. Jadi hal ini pun membuatku makin terangsang.

Guna memancingnya aku keluarkan penisku. Dan mengurutnya.

Kakak ngapain? Jorok ih, katanya.

Yeeesuka-suka dong, kataku. Aku mengocok perlahan sambil menatap adikku itu. Kamu boleh koq sentuh

Nggak ah.., katanya.

SENTUH!!, aku sedikit membentak.

Adikku entah bagaimana ia tiba-tiba spontan menyentuh penisku.

Nah, gitu, kataku. Sensasinya mulai aku rasakan. Sekarang kocok dong!!

Udah ya kak, jangan deh, katanya.

Kocok!, kataku.

Ia menurut. Mungkin perbedaan sikapku yang tadi membuat ia sedikit kaget. Aku tahu jantungnya berdegup kencang. Ia mengocoknya terus, tak beraturan. Tapi itu saja sudah membuatku nikmat. Aku lalu merangkulnya dan menciumnya, sembari ia masih mengocok. Ia kaget dan mencoba melepaskan diri, tapi aku lebih kuasa. Adikku yang SMP itu kini first kis denganku.

Lidahku menari-nari di dalam mulutnya, ia tampak kewalahan, bahkan aku sigap kaosnya dan kuremas dadanya yang montok itu. Lalu aku menyusu kepada adikku itu, aku lucuti pakaiannya, ia meronta, Kakjangan

Terlambat sudah, aku sudah menduduki perutnya, ia tak bisa ke mana-mana. Aku lucuti pakaianku, kini kami telanjang. Aku julurkan penisku ke mulutnya.

Ayo isep!, kataku.

Nggak ah kak, koq jadi gini sih, katanya.

Isep!, kataku.

Ia hanya nurut. Ia buka mulutnya dan aku jambak rambutnya. Kugerakkan kepalanya maju mundur. Nikmat sekali. Tak perlu lama-lama, aku sudahi permainan itu karena aku mengincar vaginanya. Segera, aku berbalik di posisi 69. Aku menjilati miss-vnya. Vagina perawan memang beda. Aku rasanya cairan itu membasahi mulutku. Lidahku terus menari-nari di dalamnya. Sementara adikku mengulum penisku dengan suaraHmmmhhhmmmhhmmmh

Cairan kewanitaan itu makin banyak. Dan vagina itu basah sekali. Aku sudah benar-benar puas. Lalu aku berbalik. Dan aku siap untuk menusukkan penisku yang besar dan panjang ini ke vagina Arin yang sempit. Mulanya kepalanya yang masuk, sulit sekali. Lalu aku dorong perlahan, aku tarik lagi, aku dorong lagi, vaginanya berkedut-kedut meremas-remas punyaku. Punyaku serasa ingin dia hisap.

Kaakk.sakit kaakjangan perkosa Arin, katanya meminta.

Nanti juga enak koq Rin, kataku.

Dan aku pun mulai mendorongnya sekuat tenaga. Arin memiawik tertahan. Nafasnya memburu. Vaginanya berdenyut-denyut, ia menerima ransangan penisku, aku mulai bergoyang teratur. Sembari aku menindihnya aku menciumi bibirnya. Kakak adik ini sekarang sudah bersatu. Tak kusangka penisku bisa masuk penuh memenuhi rongga vagina adikku sendiri. Kini aku tak kuasa ingin keluar. Padahal juga baru sepuluh menit bergoyang. Dan aku pun tak bisa menyia-nyiakan ini, aku memang ingin keluar.

Rin, kakak mau menghamili kamu.ahhkeluar riiinnAkkkhhaaahhkkk, benar sekali. Spermaku muncrat dengan energi penuh. Adikku merangkulku. Karpet itu jadi saksi bahwa keperawanan adikku aku renggut. Agak lama kami berpelukan dan berguling di karpet. Sampai kemudian aku cabut punyaku. Dan melihat karpet itu bernoda.

Sperma tampak sedikit keluar dari vaginanya, karena terlalu banyak yang keluar tadi. Malam itu aku membopong adikku ke kamarnya. Ia menangis. Tentu saja ia kaget dengan yang kulakukan barusan, bahkan ia kuperkosa.

Maafkan kakak ya, kataku. Kalau kau mau marah, kakak ada di sini

Percuma Arin marah, kakak sudah memerawaniku, katanya. Kakak harus janji, selain ibu dan Arin, kakak nggak boleh dengan wanita lain!!

Baiklah kakak berjanji, kataku.

Mulai sekarang, Arin ingin jadi istri kakak, katanya.

Setelah itu, aku berterus terang kepada ibuku tentang kejadian tadi malam. Ibuku tak marah. Ia mengerti keadaanku yang kecanduan sex. Boleh dibilang, hubungan incest ini tak ada orang yang tahu. Bahkan ketika ibuku melahirkan anak hasil hubungan kami, demikian juga Arin. Entahla ini namanya apa. Tapi kami berjanji akan menjaga anak-anak kami sampai ia dewasa nanti. Dan yang pasti. Hari-hariku melakukan sex dengan mereka berdua tak akan pernah usai. Dan anehnya setiap saat aku ingin sekali melakukannya dengan mereka. Ibuku yang suka dan mahir blow job, ditambah Arin yang vaginanya sempit membuatku ingin setiap hari menggaulinya. Kau tahu kalau kalian menganggap kisah ini bualan, kalian salah. aku benar-benar melakukannya dengan ibu dan adikku.

Tamat




sumber


Foto Hot Debby Aura Model Majalah Popular

Begitu cantiknya Debby Aura ketika menjadi model Majalah Popular, simak saja foto seksinya Debby Aura di Majalah Popular tersebut di bawah ini.

Debby Aura di Majalah Popular Foto Debby Aura Model Majalah Popular

Debby Aura di Majalah Popular 2 Foto Debby Aura Model Majalah Popular

Debby Aura di Majalah Popular 1 Foto Debby Aura Model Majalah Popular

Debby Aura di Majalah Popular 3 Foto Debby Aura Model Majalah Popular

Debby Aura di Majalah Popular 5 Foto Debby Aura Model Majalah Popular
Debby Aura di Majalah Popular 6 Foto Debby Aura Model Majalah Popular






Foto Hot Model Cut Mutia Saat Berpose Di Majalah Popular

Kali ini saya akan berbagi foto model majalah popular world yang tidak asing lagi.. Yak seperti judul namanya adalah Cut Muthia, seorang artis dan juga model. Dan langsung saja mari lihat Foto Cut Muthia Model Majalah Popular di bawah ini. Selamat menikmati dan selamat bersenang senang. Enjoy…
cut muthia Foto Cut Muthia Model Majalah Popular
cut muthia1 Foto Cut Muthia Model Majalah Popular
cut muthia2 Foto Cut Muthia Model Majalah Popular
cut muthia3 Foto Cut Muthia Model Majalah Popular
cut muthia4 Foto Cut Muthia Model Majalah Popular
cut muthia6 Foto Cut Muthia Model Majalah Popular



Cerita Dewasa | Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah

Jangan pernah berpikir Tut, aku akan menceraikanmu. Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku, mending kugantung saja perkawinan ini. Dengan begitu, kita seri. Kamu bisa bahagia dengan mencari di luar, begitu pun denganku. Tapi soal status, jangan lupa, kamu masih tetap istriku.. selamanya!

Kata-kata Mas Santoso tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar. Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Bram, kekasih baruku, telah menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan jendela, mencoba mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan orangtuaku untuk mengawinkan aku dengan Mas Santoso yang sebenarnya tak pernah kucintai, sampai dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain yang memberikan kenikmatan berlebih-lebih.

Entahlah, mungkin karena aku tak pernah mencintai Mas Santoso, setiap ia menuntut haknya sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya, itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Itu pula kesan yang diperoleh Mas Santoso dariku. "Kalau begini terus, bisa-bisa aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak ubahnya sepotong batang pisang. Dingin, kayak es", gerutu Mas Santoso.

Sejak menikah dengan Mas Santoso 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan jari aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku lebih banyak menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh mau, ya itu tadi, dengan setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah bermimpi bisa mendapatkan kenikmatan surga duniawi saat berhubungan intim dengannya.

Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain, rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan aktif di ranjang. Mencoba memuaskan pasanganku, dan sebaliknya berharap kepuasan setimpal darinya. Tak mampu kuingat lagi, dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama. Salah satunya adalah Bram, seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari usiaku sendiri yang sudah menginjak kepala 3.

Aku kenal denga Bram karena ia kost di rumah seorang tetangga. Posturnya yang tinggi dan tegap, membuat fantasiku melayang membayangkan yang bukan-bukan. Sampai akhirnya dengan seribu satu cara dan rayuan, pemuda asal Flores itu dengan senang hati kuseret ke atas ranjang.

"Kok ngelamun, apa yang Mbak pikirkan?" Suara bariton Bram membuyarkan lamunanku. Ternyata, ia sudah terbangun dari lelapnya, setelah sore tadi kami melewatkan permainan babak pertama. "Di sini kitakan mau senang-senang. Jadi kalau bisa, yang lain-lain dilupakan dulu", rajuk Bram sambil menarik tubuhku kepelukannya.

Dada Bram yang bidang, bulu-bulu dadanya yang keriting dan gelap, menimbulkan rasa geli serta getaran hebat. Benar kata Bram, kenapa aku mesti melamunkan sesuatu yang seharusnya tak menyita pemikiranku benar. Apalagi menurut keyakinanku, Mas Santoso saat ini pun pasti tenggelam dalam pelukan Sri, sekretaris di perusahaan kontraktor miliknya. Saya begitu yakin tentang hal itu, karena akhir-akhir ini Mas Santoso sudah jarang pulang. Salah seorang pegawainya yang begitu dekat denganku, suatu ketika memergoki mobil Mas Santoso diparkir di depan rumah kost Sri.

Tangan kekar Bram yang dipenuhi bulu-bulu lebat, meraih bagian belakang leherku, dan dengan begitu otomatis wajahku terdongak. Kesempatan itu tak disia-siakannya, bibirku dilumatnya dengan kecupan kuat disertai gelitikan lidahnya. Tak lama kemudian, lidahnya menjalar ke leher, dada, terus kebawah.. Aku menggelinjang beberapa kali, geli campur nikmat. Aku yang sejak tadi tak mengenakan sehelai pakaian pun, membuatnya lebih gampang mencumbuku. "Yang begini kan lebih menyenangkan Mbak, daripada mikir yang nggak-nggak", kata Bram sambil membopong tubuhku ke atas ranjang.

Tapi anehnya, pada setengah angkatan Bram menghentikan langkahnya. Ia justru duduk di tepian ranjang, sambil tetap memeluk tubuhku di atas tubuhnya. Dalam posisi berhadap-hadapan, aku duduk dipangkuannya. Bram jadi leluasa mencumbu bagian depan dadaku. Berkali-kali ia mencium dan mengulum puncak dari dadaku. Aku merasa nikmat yang luar biasa. Tapi meski tubuhku meliuk-liuk menahan geli dan kenikmatan yang begitu dahsyat, Bram tak mencoba menghentikan cumbuannya. Sebaliknya, ia semakin ganas mencium dan mengulum, terus begitu, berulang-ulang seperti tak pernah bosan. Ketika kurasakan sesuatu mengaliri sekujur tubuhku, dan karenanya aku jadi sedikit tegang, sambil tersenyum nakal, Bram sedikit mengangkat tubuhku. Dengan kelihaian luar biasa, tiba-tiba saja tubuh kami sudah menyatu. Di atas pangkuannya, aku mulai memacu. Cepat dan semakin cepat. Sementara Bram dengan tatap melenguh, berusaha mengimbangi gerakanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aduh, rasanya aku melayang-layang dibuatnya.

Saat kelelahan mulai menyergap tubuh kami, Bram berinisiatif dengan mengubah posisi. Kami berbaring sambil tetap berpagut mesra. Ia tetap menggelutiku, bergerak-gerak di atas tubuhku, dari samping maupun belakang. Dan ketika sesuatu yang menggelegak seakan hendak termuntahkan, Bram memelukku erat-erat sambil mendesis, "Oohh.. yes!"

Jauh sebelum dekat dengan Bram, aku mengenal mitra kerja suamiku di perusahaan jasa kontruksi, namanya Pieter. Pria Manado yang menikah dengan wanita asal Kediri itu ternyata naksir berat kepadaku. Padahal ia sangat tahu, aku ini istri kolega bisnisnya. Dari kerlingan mata yang dilakukan sembunyi-sembunyi, senyum penuh arti, sampai terpukau di pantatku saat Mas Santoso lengah.

Sampai suatu malam, ketika Pieter datang ke rumahku, kemesraan itu terjadilah. Sebab baru seperempat jam Pieter duduk di ruang depan. Mas Santoso pamit akan keluar sebentar membeli sesuatu. Tinggallah aku dengan Pieter meneruskan obrolan. Satu jam lewat, perbincangan kami mulai menemukan titik kejenuhan, tapi Mas Santoso belum kembali juga. Sampai akhirnya, tiba-tiba Pieter menyeletuk, "Nggak usah ditunggu suamimu, paling-paling ia kerumah Sri. Sebab siang tadi lewat telepon, ia sudah janjian makan malam dengan sekretaris itu."

Anehnya, meski menerima kabar tak menyenangkan itu aku masih bisa tertawa, tertawa lepas. Seperti tak ada beban. Melihat sikapku tak berubah, Pieter jadi semakin berani. Ia menyeret kursinya mendekatiku. Ketika obrolan kembali mengalir, kedua tanganku sudah berada digenggamannya. Sampai akhirnya dengan suara mendesah ia berkata, "Kamu cantik sekali Tut. Kalau Santoso sampai membiarkanmu merana begini, rugi besar dia. Percayalah, semua laki-laki akan mengatakan kamu cantik, menggairahkan. Termasuk aku, begitu mengagumimu."

Aku tahu, kata-kata yang meluncur dari mulut Pieter benar-benar tulus. Justru. Dengan pengakuannya itu, timbul simpatiku kepadanya. Maka ketika Pieter berdiri dan mulai memelukku, aku tak berusaha menolak. Bahkan dengan penuh perasaan, aku ganti mendekapnya penuh kemesraan. Tapi rupanya, sudah lama Pieter memendam sesuatu kepadaku. Buktinya, ia tak cukup memeluk dan menciumku untuk menumpahkan perasaannya. Ketika pagutan-pagutan hangat membuat kami semakin terbakar, ia berani membimbingku masuk ke kamar.

Dengan tenang, tanpa takut dipergoki Mas Santoso, Pieter melanjutkan cumbuannya sambil melolosi satu-persatu pakaianku. "Sudah lama sebenarnya gelora hati ini ingin kutumpahkan kepadamu. Tapi aku masih ragu, apakah engkau mau menerimanya", ucap Pieter dengan nafas memburu, sembari mendaratkan ciuman-ciuman mautnya di wajah, leher dan dadaku.

Dalam keadaan telentang, dan akhirnya tanpa selembar kain pun, aku hanya bisa pasrah, sambil berharap sesuatu yang menyenangkan itu tiba juga, Tapi Pieter agaknya pintar menyenangkan seorang wanita, Geraknya tetap pelan, hati-hati tapi penuh perasaan. Dan ketika gerakanku sudah seperti cacing kepanasan, ia mahfum bahwa saatnya tiba. Dengan sepenuh hati, ia menghimpitku dan mulai melakukan gerakan-gerakan teratur naik turun. Tetap pelan, tapi justru hal itu membuatku penasaran. "Ayo Piet, cepat, cepat..", Pintaku seperti kurang sabar.

Bagiku, sebuah pengalaman baru melakukan hubungan intim dengan tempo yang terkesan lambat, tapi bertenaga dan penuh perasaan. Ternyata, hasilnya jauh lebih menyenangkan. Sampai akhirnya ketika pelabuhan yang kami tuju sudah di depan mata, aku baru sadar puncak kepuasan itu telah kami raih bersama-sama. Saking bahagianya, aku sampai menangis sambil menggigit pundak Pieter. "Kamu sungguh hebat", pujiku.

Lepas dari pelukan Pieter, seorang pejabat di pemerintahan berhasil menggaet hatiku. Pak Sos, namanya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi penampilan yang wangi dan rapi sempat membuatku mabuk kepayang. Satu hal lagi, ketika aku jatuh dalam pelukan Pak Sos, suamiku-Mas Santoso-sedang dililit persoalan keuangan berkaitan dengan tendernya yang sepi sebagai seorang kontraktor. Akibatnya, hal itu jadi semacam faktor pendorong intimnya hubunganku dengan Pak Sos. Selain mendapatkan kepuasan biologis, Pak Sos juga memberiku dukungan finansial. Bahkan aku pernah dibelikan sebuah rumah cukup mewah di pinggiran kota, meski akhirnya dengan alasan tertentu kujual lagi.

Aku pertama kali kenal dengan Pak Sos berkaitan dengan proyek tender suamiku yang belum turun juga. Karena berbagai cara yang ditempuh untuk membujuk Pak Sos yang punya kewenangan menggolkan proyek itu, Mas Santoso akhirnya minta bantuanku. "Mungkin karena kamu seorang wanita, Pak Sos bisa lunak hatinya", begitu harapan suamiku.

Apa boleh buat, permintaan Mas Santoso mesti kupenuhi. Ketika tiba di ruang kerjanya yang besar dan ber-AC, kesan yang muncul pertama saat bertatap muka dengan Pak Sos adalah berwibawa tapi cuek. Tanpa membuang-buang waktu, aku mulai melancarkan jurus-jurus rayuan. Tapi seperti yang kuduga, Pak Sos tak gampang ditundukkan dengan cara-cara klise begitu. Aku mulai putus asa. Apalagi dengan angkuhnya Pak Sos berujar, "Bilang sama suamimu, nggak etis dia menyuruh istrinya merayuku untuk mendapatkan tender. Katakan padanya, apakah harga istrinya cuma sebuah tender?"

Telingaku jadi panas, aku nyaris menangis mendengarnya. Tapi meski begitu, kira-kira sepekan kemudian datang surat dinas dari kantor Pak Sos, yang isinya menjelaskan bahwa beliau setuju mendapatkan proyek yang diinginkannya. Mas Santoso tampak berbunga-bunga, tapi sebaliknya dengan aku. Menyadari semua itu aku jadi muak. Aku merasa telah dipermainkannya, dijadikan umpan agar dia berhasil mendapatkan proyek yang diinginkannya.

Sampai suatu siang, ketika Mas Santoso sudah berangkat ngantor, tanpa diduga Pak Sos menelepon ke rumah. Mula-mula, dia cuma basa-basi. Mulai menanyakan soal rumah tangga sampai menyinggung pekerjaan Mas Santoso, "Apa kamu nggak tersinggung dengan cara-cara suamimu mendapatkan tender proyek, sampai melibatkan istrinya untuk melobi-lobi begitu?" tanya Pak Sos.

Yang pasti dari pembicaraan pertelepon selama 30 menit itu, aku akhirnya tahu bahwa Pak Sos ternyata bukan tipe lelaki yang cuek dan kaku seperti yang kuduga sebelumnya. Sebaliknya, jika sudah mengobrol cukup lama dengannya, aku menyadari kalau ia cukup hangat dan romantis sebagai lelaki. Lebih dari itu, lewat suaranya yang serak-serak basah, ia begitu perhatian pada lawan jenisnya. Misalnya ketika aku mengutarakan keinginan untuk bekerja, Pak Sos dengan antusias menanggapi bahwa hal itu bisa gampang kudapatkan, asal aku tak pilih pekerjaan, atau berhitung soal pendapatan yang kuperoleh, "Kalau mau, ada lowongan di perusahaan milik kolega yang saya jamin pasti mau menerimamu. Kalau kamu serius, datanglah besok ke kantorku. Kita bicarakan lebih detil di sini", undangnya. Keesokan hari, lewat tengah hari seperti waktu yang kami sepakati, aku datang ke kantor Pak Sos. Aku sempat kecewa ketika sampai di depan pintu, ada tulisan: Keluar. Artinya, seperti kebiasaan di kantor-kantor pemerintah, si pejabat tak ada di tempat karena sedang keluar ruangan. Tapi saat aku termangu di depan pintu, seorang bawahan Pak Sos datang mendekati sambil berbisik, "Bu Tut, silakan masuk saja, Pak Sos ada di dalam kok. Ia sengaja membuat tulisan begitu, agar tak ada yang mengganggunya."

Pak Sos memang ada di ruangannya, tersenyum-senyum di atas kursi besarnya begitu melihat kedatanganku. Aku dipersilakan duduk, sementara ia membuka lemari es kecil untuk mengambil 2 botol softdrink. Tak lama kemudian kami tenggelam pada obrolan yang lebih serius, menyangkut keinginanku untuk bekerja. Ketika pembicaraan berganti topik, soal rumahtanggaku, soal hubanganku dengan Mas Santoso, nada bicara Pak Sos jadi terdengar lembut, teduh dan begitu hangat. Tak terasa, ketika aku begitu hanyut menceritakan nasib perkawinanku, ia sudah berdiri begitu dekat denganku. Ketika tetes-tetes air mata membasahi pipiku, Pak Sos dengan merengkuh pundakku dan kemudian memelukku penuh perasaan.

Kami tenggelam dalam keharuan yang dalam. Tapi ketika perasaan kami sudah begitu menyatu, keharuan itu mendadak saja jadi gelora yang berkobar-kobar, manakala tangan Pak Sos yang sangat terlatih mulai bergerak liar di bagian-bagian tubuhku yang paling sensitif. Ketika kancing-kancing blusku telah terbuka semua, aku seperti tak sadar kalah dalam posisi telentang di atas meja kerja Pak Sos, dan ia dengan begitu bernafsu, menghimpit dan mencumbuiku.

Kami seperti 2 manusia yang kehilangan akal. Di atas meja itu kami memperagakan permainan aneh yang yang menyenangkan, setelah Pak Sos melepas pertahanan terakhir dari kain paling tipis yang kukenakan. Nafas Pak Sos memburu seiring dengan gerakan-gerakan yang teratur. Di atas meja, hanya dengan melihat langit-langit atap ruangannya, aku terhentak-hentak dan merasakan tubuhku seperti tengah mengambang. Dan ketika puncak kenikmatan telah kami raih bersama, sadarlah aku bahwa hal itu seharusnya tak kami lakukan di kantornya. Sambil tersipu-sipu, aku membenahi kembali pakaianku yang berantakan. Tapi Pak Sos cepat menghibur, "Jangan merasa bersalah, tenang-tenang saja. Mau kuambilkan minuman lagi?"

Sejak beberapa bulan lalu, ia harus pindah kerja di kota Malang karena ada mutasi pekerjaan. Karena itu untuk melipur kesepian hati, aku berkenalan dengan Bram, pemuda tanggung yang ternyata lebih bisa memuaskan soal urusan ranjang, dibanding suami sahku, Mas Santoso. Tentang laki-laki terakhir, hingga detik ini masih terikat perkawinanku meski ia sudah jarang pulang, karena lebih suka menginap di rumah Sri, sekretarisnya. Aku sendiri, terus terang saja rasanya tak cukup siap untuk menghentikan semua kesenangan ini.

TAMAT





sumber


Cerita Dewasa | Pasang Susuk Lewat Dukun Cabul

Sekitar setahun setelah saya bercerai, ada teman yang mengajakku pasang susuk. Katanya sudah banyak teman-temannya yang kesana. Pertama-tama saya tidak berminat, terus dia pergi sendiri. Seminggu kemudian kami ketemu lagi, langsung saja saya bertanya bagaimana susuknya. Dia cuma tersenyum sambil berkata, "kamu kesana deh, cocok buat yang sudah lama tidak begitu". Saya heran lalu saya tanya lagi apaan, tapi dia tetap saja tersenyum. 

Karena penasaran, akhirnya saya juga kesana. Ternyata dukunnya tidak jelek-jelek amat (seperti di film-film kurus dan tua), malah cenderung ganteng walau agak berumur. Waktu saya beri tahu maksud kedatanganku, dia bertanya-tanya banyak hal, seperti status saya, jadwal mens, dll. Sedikit heran, tapi saya jawab. Terakhir akhirnya dia bilang, kalau pemasangan susuk yang saya minta harus dilakukan lewat cara bersenggama. 

Mukaku langsung merah padam (maklum, waktu itu saya baru menjanda, dan hubungan badan terakhir cuman sama eks-suamiku). Tapi saya lihat, Pak dukun justru tenang-tenang saja, mukanya tidak berubah, tidak tahu apa dia punya ilmu hipnotis yang bisa mempengaruhiku atau kepercayaanku bahwa dia betul-betul profesional (sekedar ingin bersetubuh denganku), akhirnya saya setuju.

Lalu dia melakukan perhitungan berdasarkan jadwal mensku, terus dia mencari tanggal yang tepat dimana saya lagi tidak subur. Pada hari yang ditentukan, saya kembali lagi ke sana. Lalu saya dibawa ke belakang, ke sebuah ruangan khusus (seperti ruang praktek dokter), terus disuruh minum segelas minuman (spertinya itu obat perangsang, sebab tidak lama saya langsung merasa relax dan panas). Sekitar setengah jam kemudian, Pak dukun masuk lalu mengambil topeng dari lemari. Saya lalu berbaring diatas ranjang. Pelan-pelan Pak dukun membuka kancing blusku. 


Setelah terbuka semua blus itu disibakkannya ke pinggir (tidak dilepas). Mulutnya komat-kamit membaca mantra lalu kepalanya mulai menunduk di atas dadaku. Tak lama lidahnya mulai bergerak-gerak diatas putingku, sambil tangannya mengelus-elus pahaku. Pengaruh obat dan rangsangan itu membuatku melayang-layang. Tidak berapa lama saya sudah basah (kelewat basah malah, karena saya sempat orgasme sama jari Pak dukun). 

Lalu Pak dukun pindah di kakiku. Rokku dibuka, celana dalam juga. Terus dia meniup-niup liang kewanitaanku sambil komat-kamit. Putingku rasanya dingin karena BH yang saya pakai basah oleh ludah Pak dukun (kebetulan saya pakai BH yang renda-renda dan cupnya cuma sepotong). Setelah ditiup-tiup, kakiku mulai dilebarkan. Lalu Pak dukun menurunkan celananya. 

Penis Pak dukun panjangnya biasa-biasa saja (seperti eks-suamiku) tapi punya dia lebih gemuk (sangat gemuk) dan melebar ke samping. Di sini saya belajar bahwa panjang penis cowok tidak begitu berpengaruh terhadap kenikmatan, tapi lebarnya yang berpengaruh. Pak dukun ngocok-ngocok penisnya sambil komat-kamit membaca mantra. Terus dia mulai memasukkan penisnya ke dalam liang senggamaku. 

Waduh, rasanya.., tidak tahu apakah karena saya sudah lama tidak mendapat service, atau memang nikmat, tapi yang jelas waktu itu saya sampai berteriak keenakan. Pak dukun juga seingat saya cukup ahli memuaskan wanita, sebab dengan goyangan-goyangan pantatnya itu saya sampai dua kali orgasme. Dia sendiri sepertinya enjoy juga (jelas, liang kewanitaanku termasuk rapat dan diantara pasien-pasiennya saya termasuk paling muda). Saya tidak peduli lagi, pokoknya kami berdua enjoy banget.

Ketika saya memasuki orgasme yang ketiga, Pak dukun juga sudah mau orgasma. Penis gemuknya dihunjamkan sedalam-dalamnya ke dalam liang senggamaku. Wah, saya langsung meledak sambil menjepit erat-erat pantatnya. Bersamaan denganku, Pak dukun juga meledak. 


Yang paling saya ingat waktu itu, sambil merem-melek dan meringis keenakan, Pak dukun masih sempat mengucapkan mantera seperti, "Aahh.., ss.., blablabla.., ss.., hh.., blabla.., hh.. ooh.., mm..", Terus dia membantuku melepaskan rasa nyaman dengan menciumiku sambil mengelus-elus dadaku.

Setelah saya kembali sadar, dia juga mulai bangkit. Penisnya masih menggelantung mengkilat, dia nmengambil tissue buatku. Lalu dia menunjukkan pintu kamar mandinya. Wah, pakaianku berantakan dan kusut (habis tidak dibuka sih).

Akhirnya saya cuma pipis dan mencuci kemaluanku sedikit saja. Waktu keluar Pak dukun sudah pakai baju. Terus dia bilang susuknya sudah masuk, dibawa oleh spermanya katanya. Terus dia pesan saya jangan takut hamil, karena sudah dihitung baik-baik harinya. 


Setelah menerima amplop dariku (sesuai pesan teman 50.000 cukup), lalu saya disuruh pulang. Sampai sekarang saya tidak tahu apa benar saya punya susuk, ataukah itu cuma alasan dukun cabul untuk meniduri perempuan. Yang jelas waktu itu saya merasa puas juga, dan syukur sampai hari ini saya tidak kena penyakit kelamin atau sejenisnya. Saya pikir biarlah, hitung-hitung sama saja dengan menyewa bebek.

Kabar terakhir tentang Pak dukun, kata temanku dia pindah ke Ambon. Saya tidak tahu di sana dia praktek juga atau tidak lagi. Tapi baru-baru ini saya baca surat kabar KOMPAS (belum seminggu korannya), ada cerita tentang dukun yang suka gituin istri orang. Mungkin itu dia, kalau kamu tertarik bisa buka-buka koran kompas, tapi saya tidak pasti tanggalnya.

TAMAT





sumber


Foto Hot Maria Model Majalah Popular

Model cantik Maria menghiasi majalah popular beberapa waktu lalu, dengan berbagai pose serta busana minim penampilannya selalu hot dan seksi, simak saja fotonya di bawah ini